Sistem WhatsApp Salah Blokir Massal Akun Pengguna Indonesia
Ribuan pengguna WhatsApp di Indonesia mengalami pemblokiran akun secara tiba-tiba pada awal Agustus 2026, sebuah insiden yang kemudian terungkap dipicu oleh kesalahan sistem deteksi otomatis WhatsApp yang salah menangkap akun-akun asli sebagai pelanggar aturan. Kasus ini mencuat setelah sejumlah korban peretasan justru kehilangan akses ke akun mereka, termasuk aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, yang akunnya ikut terblokir dalam gelombang pemblokiran massal tersebut.
Akar masalah dimulai ketika peretas membajak akun-akun WhatsApp pengguna dan menggunakannya untuk mengirim tautan judi online secara otomatis. Hesti, seorang karyawan swasta berusia 34 tahun yang menjadi salah satu korban, menceritakan pengalamannya saat akun WhatsApp-nya diambil alih saat terbuka di WhatsApp Web. “Tiba-tiba WhatsApp di web kirim chat ke nomer yang tidak dikenal banyak banget, mungkin kira-kira 20 nomer lebih ngirim link judol,” ungkapnya. Tak lama setelah dia melakukan log out dari WhatsApp Web, akun di ponselnya justru masuk status peninjauan dan kemudian terblokir — sebuah ironi di mana korban peretasan justru mendapat hukuman dari sistem.
Komdigi Panggil Meta Setelah Diabaikan
Merespons banyaknya aduan serupa, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengirimkan surat kepada Meta pada 14 Agustus 2026 untuk meminta klarifikasi tertulis. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, memberikan tenggat waktu hingga 24 Agustus untuk Meta merespons. Namun, surat tersebut tidak mendapat tanggapan hingga batas waktu yang ditentukan, mendorong Komdigi mengambil langkah lebih tegas dengan memanggil perwakilan Meta untuk hadir langsung di Jakarta pada 26 Agustus 2026.
“Terkait penanganan kasus suspend massal akun WhatsApp, kami telah meminta kehadiran perwakilan Meta di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital guna memberikan keterangan secara langsung kepada Pemerintah,” tegas Alexander. Langkah ini, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab Meta sebagai penyelenggara sistem elektronik dalam menyediakan layanan yang andal bagi pengguna di Indonesia.
Meta Akui Kesalahan Sistem Deteksi Global
Dalam pertemuan di kantor Komdigi tersebut, Kepala Kebijakan Publik WhatsApp dan Messenger Asia Pasifik Meta, Esther Samboh, mengakui adanya kesalahan sistem yang menyebabkan pemblokiran keliru terhadap akun-akun pengguna asli. Esther menjelaskan bahwa WhatsApp menggunakan enkripsi end-to-end sehingga sistem tidak dapat membaca isi pesan pengguna. Sebagai gantinya, WhatsApp mengandalkan sinyal perilaku pengguna — seperti pola pengiriman pesan massal atau aktivitas mencurigakan lainnya — untuk mendeteksi spam dan penyalahgunaan platform.
“Dalam melakukan proses penangkapan akun-akun yang tidak baik ini, kemudian sistem kami melakukan kesalahan,” ungkap Esther. Ia menegaskan bahwa kesalahan ini bukan merupakan upaya yang secara khusus menargetkan pengguna Indonesia, melainkan terjadi secara global akibat kegagalan algoritma dalam membedakan akun yang dibajak dari akun korban yang sah.
Pemulihan Akun dan Mekanisme Banding
Setelah menyadari kesalahan tersebut, Meta mengklaim telah melakukan mitigasi cepat untuk memperbaiki sistem dan memulihkan sebagian besar akun yang terdampak. “Ini memang kesalahan sistem yang langsung dimitigasi. Sebagian besar akun asli yang terdampak oleh kesalahan teknis ini kini telah dipulihkan,” kata Esther. Bagi pengguna yang akunnya masih belum kembali, WhatsApp menyediakan mekanisme banding langsung melalui aplikasi, dengan jaminan peninjauan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sementara itu, Komdigi menuntut Meta untuk menyediakan kanal aduan khusus yang lebih responsif bagi pengguna Indonesia yang terdampak peretasan dan pemblokiran. Ketika ditanya spesifik mengenai kasus aktivis Botok, Alexander Sabar menyatakan pihaknya tidak mengetahui detail posisi akun tersebut sebagai regulator, namun menekankan pentingnya Meta bertanggung jawab atas layanan yang mereka sediakan di Indonesia.
Kasus ini menyoroti tantangan platform media sosial dalam menyeimbangkan upaya penegakan keamanan dengan risiko kesalahan sistem otomatis yang berdampak pada pengguna sah. Meski Meta telah bergerak cepat melakukan pemulihan, insiden ini mengingatkan pentingnya mekanisme verifikasi yang lebih akurat dan kanal komunikasi yang responsif antara platform teknologi global dengan regulator serta pengguna lokal.
Sumber
- Komdigi Panggil Meta Buntut Peretasan dan Suspend Massal Akun WhatsApp – CNN Indonesia
- WhatsApp Botok Pati Diblokir, Ini Kata Komdigi dan Meta – detikInet
- Dipanggil Komdigi, Meta Ungkap Penyebab Pemblokiran Massal WhatsApp – detikInet
- Tak Hanya di Indonesia, Pemblokiran Akun WhatsApp Terjadi Global – detikInet
- Meta Buka Suara Soal Peretasan dan Suspend Massal Akun WhatsApp – CNN Indonesia
- Meta Ungkap Penyebab Akun WhatsApp di Indonesia Diblokir Massal – Kompas Tekno
- Komdigi dan Meta Buka Suara Soal Akun WhatsApp Botok Pati Terblokir – CNN Indonesia
