Google Maps Ubah Nama Danau Ontario, MapQuest Tolak

Google Maps Ubah Nama Danau Ontario, MapQuest Tolak

Sebuah keputusan kontroversial Presiden Donald Trump kembali mengubah peta digital Amerika Serikat. Kali ini, Danau Ontario — salah satu dari lima Danau Besar yang membentang di perbatasan AS-Kanada — resmi berganti nama menjadi “Danau Amerika” lewat perintah eksekutif yang dikeluarkan pada hari Kamis pekan lalu. Langkah ini muncul di tengah ketegangan perdagangan antara kedua negara, setelah AS memberlakukan tarif baru sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai $20 miliar, menyusul kegagalan perundingan dagang.

Google Maps Langsung Ikuti Perubahan, Lebih Cepat dari Pemerintah AS

Google Maps menjadi platform peta digital pertama yang menerapkan perubahan nama tersebut, bahkan lebih cepat dari sistem resmi pemerintah Amerika Serikat sendiri. Pada hari Sabtu, hanya dua hari setelah perintah eksekutif dikeluarkan, Google Maps sudah menampilkan label “Danau Amerika” untuk pengguna di AS, sementara pengguna di Kanada tetap melihat nama asli “Danau Ontario”. Bagi pengguna di luar kedua negara, aplikasi ini menampilkan kedua nama sekaligus.

Dalam pernyataan resminya, Google menjelaskan bahwa pihaknya selalu memperbarui peta berdasarkan sumber resmi pemerintah — dalam hal ini, pangkalan data Geographic Names Information System (GNIS) milik Departemen Dalam Negeri AS. Menariknya, hingga Minggu pagi, peta resmi GNIS sendiri masih menampilkan nama “Danau Ontario” dengan catatan bahwa proses pembaruan masih berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa Google bergerak lebih cepat dari birokrasi pemerintah dalam menerapkan kebijakan kontroversial ini.

MapQuest Menolak Ikuti Perintah, Popularitas Meroket

Namun tak semua penyedia layanan peta mengikuti jejak Google. MapQuest, yang menyebut dirinya sebagai “pelopor pemetaan daring”, secara tegas menolak mengubah nama danau tersebut. Dalam unggahan media sosial pada hari Kamis, perusahaan ini dengan singkat menyatakan: “Kami tidak akan mengubahnya.” Keputusan berani ini langsung memicu lonjakan minat pengguna yang luar biasa.

Berdasarkan data dari Sensor Tower, aplikasi MapQuest mencatat 184.000 unduhan global pada minggu yang dimulai 24 Agustus — melonjak lebih dari 10 kali lipat dibanding minggu sebelumnya. Di App Store Amerika Serikat, aplikasi ini bahkan meraih posisi teratas di kategori Navigasi dan naik ke peringkat 4 secara keseluruhan (tidak termasuk game). Di Kanada, MapQuest mencapai posisi nomor 2 di seluruh kategori App Store pada Minggu malam. Doug Berger, Manajer Umum MapQuest, menyatakan bahwa perusahaan menerima “ratusan ribu” unduhan baru dan tingkat penggunaan aplikasi melonjak hingga 50 kali dari kondisi normal.

“Kami mengambil pendekatan yang sama seperti saat kasus Teluk Meksiko: menjadi bagian dari percakapan, dan memberikan aplikasi yang mempertahankan nama-nama yang sudah familiar bagi masyarakat,” ujar Berger. Sebagai respons kreatif, MapQuest juga meluncurkan alat daring yang memungkinkan pengguna mengganti nama danau secara jenaka dan membagikan hasilnya di media sosial — strategi serupa yang mereka gunakan saat Trump mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika pada Januari 2025.

Apple Maps dan Bing Belum Bergerak, OpenStreetMap Beri Pilihan

Sementara itu, dua pemain besar lainnya — Apple Maps dan Bing Maps — hingga Senin pagi belum melakukan perubahan serupa pada peta mereka. Padahal, kedua platform tersebut sebelumnya mengikuti perintah Trump untuk mengganti nama Teluk Meksiko pada awal tahun lalu, sehingga kemungkinan besar mereka akan segera menyusul Google dalam waktu dekat.

Di sisi lain, komunitas pemetaan sumber terbuka seperti OpenStreetMap — yang teknologinya digunakan oleh perusahaan seperti Uber dan Lyft — mengambil pendekatan berbeda. Platform ini mengakui kedua nama dan memberikan kebebasan kepada organisasi yang menggunakan peta mereka untuk memilih nama mana yang akan ditampilkan. Langkah ini mencerminkan perdebatan publik yang cukup sengit di komunitas pemetaan daring terkait legitimasi perubahan nama yang didorong oleh agenda politik.

Kontroversi ini menandai episode kedua dalam upaya Trump mengubah peta geografis melalui perintah eksekutif, setelah kasus Teluk Meksiko. Meski perusahaan teknologi besar tidak terikat secara hukum untuk mengikuti nama resmi pemerintah, mayoritas dari mereka cenderung mengacu pada pangkalan data seperti GNIS demi konsistensi dengan dokumen dan rambu-rambu pemerintah. Namun kasus MapQuest membuktikan bahwa pilihan untuk tidak mengikuti kebijakan kontroversial ini justru bisa menjadi keuntungan bisnis — setidaknya dalam jangka pendek, ketika sentimen publik menjadi faktor yang menentukan.

Sumber

Similar Posts