Banjir Nepal Picu Runtuhan Gletser Akibat Pemanasan Global

Banjir Nepal Picu Runtuhan Gletser Akibat Pemanasan Global

Banjir bandang dahsyat yang menerjang perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8) lalu bukan sekadar bencana alam biasa — peristiwa yang menewaskan sekitar 160 orang dan menghilangkan ratusan lainnya, termasuk puluhan turis internasional, ini mengungkap sisi gelap pemanasan global yang kian mengancam stabilitas pegunungan tinggi Himalaya. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan pemandangan mengerikan: tembok air setinggi bangunan menyapu bersih kendaraan, rumah, dan segala yang menghalanginya.

Runtuhnya Gletser Langtang Lirung sebagai Pemicu

Analisis citra satelit dan data dari pemerintah Nepal menunjukkan bahwa banjir ini dipicu oleh runtuhnya sebongkah besar es di Gunung Langtang Lirung. Menurut Daniel Shugar, ahli geologi dari University of Calgary, bongkahan gletser selebar sekitar 2.000 kaki jatuh bebas hampir 4.000 kaki ke lembah di bawahnya. Benturan luar biasa keras tersebut menghancurkan es menjadi air sekaligus memicu longsoran batu dan lumpur dalam skala masif, yang kemudian menyapu wilayah hilir dengan kekuatan mengerikan.

Begitu dahsyatnya peristiwa ini hingga US Geological Survey (USGS) mencatat energi seismik yang dihasilkan setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 5,2. Awalnya, getaran tersebut sempat dikira gempa bumi biasa dengan kekuatan 4,4 magnitudo, namun USGS kemudian memastikan bahwa sumber energi sebenarnya berasal dari runtuhan gletser dan aliran material longsoran yang mengalir deras ke lembah.

Pemanasan Global Melemahkan “Perekat” Pegunungan

Para ilmuwan kini memperingatkan bahwa pemanasan global sedang mengubah kondisi fundamental pegunungan tinggi di seluruh dunia, termasuk Himalaya. Dr. Richard Waller dari Keele University mengibaratkan pegunungan tinggi sebagai struktur batuan retak yang direkatkan oleh es — ketika permafrost dan es yang mengisi celah-celah batuan mencair akibat suhu yang meningkat, batuan yang sebelumnya stabil menjadi rentan runtuh. Menariknya, Dr. Hamish Pritchard dari British Antarctic Survey mencatat bahwa suhu tanah di sekitar lokasi runtuhnya gletser mencapai titik tertinggi dalam dua tahun, tepatnya dua hari sebelum bencana terjadi.

Suhu tinggi yang tidak biasa ini tidak hanya melemahkan lapisan salju, tetapi juga mengisi rekahan dengan air lelehan dan mencairkan ikatan es yang selama ini menjaga gletser tetap menempel pada batuan induknya. Joseph Shea, profesor geografi dari University of Northern British Columbia, menjelaskan bahwa gletser-gletser di Nepal memang tengah mengalami penyusutan drastis. Antara 1970 hingga 2010 saja, area gletser Nepal berkurang hampir 25 persen, sementara lebih dari 160 gletser kecil di negara itu bahkan telah menghilang sepenuhnya.

Ancaman Berlanjut: Danau Gletser yang Siap Meluap

Persoalannya tidak berhenti pada satu gletser yang runtuh. Ketika gletser terus menyusut, air lelehan membentuk danau-danau besar di dataran tinggi yang dibendung secara alami oleh endapan sedimen. Jika longsoran susulan atau runtuhan es menghantam danau tersebut, bendungan alami bisa jebol seketika dan memicu fenomena yang dikenal sebagai Glacial Lake Outburst Flood (GLOF) — banjir bandang yang dapat melanda kawasan berpenduduk padat di lembah. Nepal sendiri sudah mengalami dua kejadian GLOF tahun lalu, dan penelitian menunjukkan jutaan orang di berbagai belahan dunia, terutama Asia, kini hidup dalam ancaman serupa.

Meski para ilmuwan berhati-hati untuk tidak menyebut perubahan iklim sebagai satu-satunya penyebab bencana Nepal, mereka sepakat bahwa pemanasan global menciptakan kondisi yang membuat lereng pegunungan tinggi jauh lebih rentan. Simon Cox dari Earth Sciences New Zealand menegaskan bahwa perubahan iklim dapat mengganggu kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi, sementara kondisi monsun yang membuat tanah jenuh air dan sungai membesar turut memperburuk situasi. Di sisi lain, proyeksi ilmiah menunjukkan bahwa 40 persen es gletser dunia bisa lenyap jika pemanasan global tidak berhasil dijaga di bawah 1,5 derajat Celsius — sebuah ambang batas yang kian sulit dicapai.

Bencana Nepal menjadi pengingat keras bahwa sistem peringatan dini yang ada saat ini — yang umumnya hanya mengandalkan deteksi gempa dan curah hujan monsun — sudah tidak memadai lagi. Pemantauan stabilitas gletser dan permafrost melalui citra satelit menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak di masa depan, mengingat ratusan juta penduduk Asia bergantung pada sumber air yang berasal dari gletser Himalaya. Ketika es terus mencair, ancaman tidak hanya datang dalam bentuk banjir, tetapi juga hilangnya sumber air jangka panjang bagi sebagian besar populasi benua ini.

Sumber

Similar Posts