Krisis RAM Akibat AI Picu Kelangkaan Ponsel Murah dan Lonjakan Harga Memori

Krisis RAM Akibat AI Picu Kelangkaan Ponsel Murah dan Lonjakan Harga Memori

Pasar ponsel pintar global tengah menghadapi krisis yang tak terduga: smartphone murah yang selama ini menjadi pilihan jutaan konsumen kini terancam menghilang dari pasaran. Penyebabnya bukanlah penurunan permintaan atau kompetisi harga, melainkan efek domino dari pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang menyerap habis pasokan memori global, memicu lonjakan harga RAM hingga membuat ponsel kelas bawah tidak lagi menguntungkan untuk diproduksi.

Lembaga riset teknologi Omdia dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa biaya memori kini menyumbang porsi yang mencekik dalam struktur biaya produksi ponsel murah. Untuk perangkat yang dijual di bawah US$99, komponen RAM kini menyedot hingga 64 persen dari total biaya. Sementara itu, ponsel di segmen US$100-400 mengalami lonjakan porsi biaya memori menjadi 59 persen pada kuartal pertama 2026, naik drastis dari hanya 32 persen pada kuartal ketiga 2025. Angka-angka ini menandakan titik kritis dimana produsen mulai kehilangan margin keuntungan.

Lonjakan Biaya Memori Mencekik Produsen Ponsel Murah

Krisis ini berakar pada pergeseran strategi produksi raksasa memori dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron. Ketiga produsen tersebut kini mengalokasikan sebagian besar kapasitas pabriknya untuk memproduksi chip bermargin tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM) yang dibutuhkan GPU AI Nvidia, DDR5 untuk server, serta LPDDR5X untuk smartphone flagship. Akibatnya, produksi memori generasi lama yang dipakai ponsel murah menjadi terbengkalai, menciptakan kelangkaan pasokan yang berujung pada kenaikan harga.

Dampaknya langsung terasa di lini produksi vendor China yang mendominasi segmen ponsel murah. Analis Omdia, Zaker Li, menyebutkan bahwa produsen seperti Oppo, Vivo, Honor, Xiaomi, dan Transsion kini menghadapi dilema: menaikkan harga jual atau menghentikan produksi ponsel kelas bawah sepenuhnya. Berdasarkan proyeksi Omdia, pengapalan ponsel dengan harga di bawah US$400 akan menyusut hingga 22 persen sepanjang sisa tahun ini hingga 2027, sementara ponsel premium di atas US$400 justru diprediksi tumbuh 5,7 persen tahun ini.

Strategi Survival: Turunkan Spek atau Tinggalkan Segmen

Menghadapi tekanan biaya memori yang terus meningkat, sebagian produsen mencoba bertahan dengan memangkas spesifikasi komponen lain. Li menjelaskan bahwa vendor kini menurunkan kualitas panel layar, menggunakan lebih sedikit kamera atau sensor yang lebih kecil, serta mengadopsi chipset generasi sebelumnya untuk mengimbangi lonjakan biaya RAM. Namun, ruang gerak untuk strategi penghematan semacam ini semakin menyempit seiring akselerasi kenaikan harga memori.

Wakil Presiden Worldwide Client Devices di IDC, Francisco Jeronimo, bahkan mengungkapkan bahwa sejumlah vendor secara terbuka mempertimbangkan untuk keluar sepenuhnya dari segmen ponsel murah. “Jika kamu menjual ponsel seharga US$150 dan setengah dari biayanya adalah memori, di mana keuntungannya? Tidak ada gunanya menjual produk semacam itu,” ungkap Jeronimo, menegaskan betapa sulitnya posisi produsen saat ini.

Krisis Meluas ke Memori Komputer Generasi Lama

Tak hanya ponsel, krisis pasokan juga merembet ke pasar modul memori komputer, khususnya DDR4 dan DDR3 yang seharusnya sudah murah karena teknologinya lebih tua. Menurut sumber rantai pasok yang dikutip DigiTimes, harga kontrak modul DDR4 8 GB melonjak lebih dari 50 persen pada kuartal ketiga 2026 dibanding kuartal sebelumnya, jauh melampaui proyeksi analis yang hanya memperkirakan kenaikan 10-20 persen.

Situasi menjadi semakin tidak biasa ketika harga memori generasi lama seperti DDR3 justru melampaui DDR5 jika dihitung per kapasitas. Pada awal Juli 2026, chip DDR3 4 Gb diperdagangkan di kisaran US$3,19 per gigabit, sementara DDR5 16 Gb hanya US$2,94 per gigabit. Kondisi ini terjadi karena produksi DDR4 dan DDR3 kini hanya ditopang dua perusahaan Taiwan, Nanya Technology dan Winbond, yang kapasitas produksinya jauh di bawah permintaan pasar dari data center dan SSD enterprise yang masih mengandalkan teknologi lama tersebut.

Meski outlook jangka pendek tampak suram, Jeronimo memperkirakan krisis RAM akan mulai mereda pada musim gugur 2027 atau awal 2028, seiring perlambatan pembangunan infrastruktur AI dan peningkatan kapasitas produksi memori. Namun hingga saat itu tiba, konsumen yang mengincar ponsel murah mungkin harus bersabar lebih lama—atau menyiapkan budget lebih besar untuk perangkat dengan spesifikasi yang ironisnya justru lebih rendah dari generasi sebelumnya.

Sumber

Similar Posts