Rekor Pendapatan Apple Terancam Kelangkaan Chip dan Transisi CEO
Apple baru saja mencatatkan rekor pendapatan kuartal ketiga tahun fiskal 2026 sebesar USD 109,4 miliar, didorong oleh lonjakan penjualan iPhone yang naik 22 persen menjadi USD 54,25 miliar dan penjualan Mac yang melonjak 29 persen mencapai USD 10,35 miliar. Namun, di balik gemerlap angka-angka tersebut, raksasa teknologi asal Cupertino ini tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi menggerus pertumbuhan di masa mendatang: kelangkaan memori global yang dipicu ledakan permintaan perangkat keras untuk AI generatif.
Krisis Pasokan Memori yang Diprediksi Berlangsung Hingga 2028
CEO Tim Cook menyebut situasi saat ini sebagai “banjir harga memori seratus tahunan”, sebuah kondisi langka yang membuat Apple kesulitan mengamankan komponen memori canggih untuk prosesor Apple Silicon yang menjadi jantung produk-produk seperti iPhone dan Mac. Masalahnya tidak berhenti di sana — CFO Kevan Parekh memproyeksikan kendala pasokan akan makin parah pada kuartal depan, dengan dampak yang akan dirasakan lintas lini produk mulai dari iPhone, Mac, hingga iPad.
Kelangkaan ini terutama disebabkan oleh pembangunan pusat data AI secara masif yang menyerap chip memori dan kapasitas manufaktur dalam jumlah besar. Permintaan server AI kini bersaing ketat dengan kebutuhan produksi smartphone, laptop, dan perangkat elektronik konsumen lainnya. Bahkan Samsung sebelumnya telah memperkirakan kondisi pasokan chip akan tetap ketat hingga 2028, menandakan bahwa ini bukan sekadar krisis jangka pendek.
Apple Ubah Strategi Rantai Pasok Tradisional
Menghadapi ancaman ini, Apple mengambil langkah yang cukup mengejutkan: menimbun inventaris dalam jumlah besar. Perusahaan melaporkan inventaris senilai USD 11,1 miliar, hampir dua kali lipat dari USD 5,7 miliar yang tercatat pada September tahun lalu. Langkah ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan rantai pasok tradisional Apple yang selama ini dikenal dengan strategi meminimalkan inventaris.
“Kami melihat kendala yang sangat signifikan saat ini dengan fleksibilitas terbatas dalam rantai pasokan untuk mengatasinya,” ungkap Cook dalam konferensi investor. Perusahaan kini sedang mengevaluasi berbagai opsi, termasuk kemungkinan menggunakan pemasok komponen alternatif, meski tantangan terbesar tetap pada keterbatasan kapasitas manufaktur chip canggih itu sendiri.
Kenaikan Harga Produk dan Proyeksi Pertumbuhan yang Melambat
Dampak kelangkaan memori sudah mulai terasa di kantong konsumen. Apple “dengan enggan” menaikkan harga Mac dan iPad pada Juni lalu, termasuk MacBook Neo yang kini dijual seharga USD 699, naik dari harga awal USD 599 saat debut pada Maret. Perusahaan teknologi lain seperti Meta, Samsung, Microsoft, dan Sony juga telah mengambil langkah serupa.
Analis industri bahkan memprediksi bahwa iPhone 18 yang dijadwalkan meluncur musim gugur ini bisa mengalami kenaikan harga hingga USD 200. Menariknya, Apple berencana meluncurkan versi Siri AI yang lebih personal bersamaan dengan iPhone 18, dengan kemampuan menjawab pertanyaan tentang apa yang ada di layar pengguna, mencari informasi lintas aplikasi, dan menjalankan tugas seperti menambahkan acara ke kalender.
Proyeksi pertumbuhan Apple untuk kuartal mendatang juga mengalami penurunan. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan pendapatan hanya berada di level 9-11 persen, turun drastis dari rata-rata 16 persen pada kuartal-kuartal sebelumnya. Proyeksi ini berada di bawah ekspektasi Wall Street, sehingga saham Apple langsung anjlok 6 persen dalam perdagangan setelah jam kerja.
Transisi Kepemimpinan di Tengah Gejolak Pasokan
Krisis rantai pasok ini terjadi tepat saat Apple akan mengalami perubahan kepemimpinan besar. Tim Cook dijadwalkan mundur dari posisi CEO pada 1 September 2026, dan akan digantikan oleh John Ternus, VP Hardware Engineering Apple. Ini akan menjadi laporan keuangan terakhir dengan Cook sebagai pemimpin, dan Ternus akan mewarisi tantangan berat dalam mengelola perusahaan di tengah ketidakpastian pasokan komponen.
Meski demikian, tidak semua kabar buruk bagi Apple. Divisi layanan perusahaan mencatat pendapatan USD 30,74 miliar dengan basis pelanggan yang mencapai rekor baru sebanyak 1,5 miliar pelanggan di seluruh layanan berlangganan seperti Apple One dan Apple TV Plus. Minggu ini, Apple juga meluncurkan program Upgrade yang memungkinkan konsumen menyewa iPhone, iPad, Apple Watch, atau Mac dengan harga bulanan tetap — sebuah strategi yang bisa membantu mempertahankan penjualan meski harga perangkat terus naik.
Tantangan yang dihadapi Apple mencerminkan dilema industri teknologi secara keseluruhan: bagaimana memenuhi permintaan konsumen yang terus tumbuh di tengah kelangkaan komponen kritis yang diprediksi akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Keberhasilan strategi penimbunan inventaris dan eksplorasi pemasok alternatif akan menjadi ujian pertama bagi kepemimpinan baru John Ternus ketika ia resmi menjabat bulan depan.
