Merger GoPro dan Starman Optical Senilai USD 285 Juta Selamatkan Perusahaan dari Kebangkrutan
Kabar melegakan akhirnya datang bagi para penggemar kamera aksi, menyusul kesepakatan merger senilai USD 285 juta antara GoPro dan perusahaan teknologi Starman Optical pada awal September 2026. Langkah strategis bernilai ratusan juta dolar secara tunai ini secara resmi menyelamatkan GoPro dari ancaman kebangkrutan yang membayangi kelangsungan bisnis mereka. Tak hanya itu, suntikan dana segar dari kesepakatan ini juga membebaskan perusahaan dari risiko penghapusan pencatatan saham (delisting) di bursa Nasdaq akibat penurunan nilai valuasinya yang sempat terpuruk drastis. [LINK: Perkembangan industri kamera aksi global]
Terimpit Kompetisi Sengit Hingga Berujung Merger
Sebelum kesepakatan penyelamatan ini tercapai, GoPro memang tengah menghadapi tekanan finansial yang luar biasa berat sepanjang tahun. Persaingan pasar yang semakin ketat dengan rival utamanya, seperti DJI dan Insta360, serta lonjakan harga komponen memori global membuat kondisi keuangan perusahaan berdarah-darah. Berdasarkan laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026, pendapatan GoPro terpantau anjlok tajam sebesar 31 persen menjadi hanya USD 105 juta, diiringi dengan kerugian bersih yang membengkak hingga menyentuh angka USD 36 juta.
Kondisi fundamental yang rapuh tersebut berdampak langsung pada kepercayaan investor di lantai bursa selama beberapa bulan terakhir. Harga saham GoPro tercatat meluncur bebas dari USD 1,73 pada bulan Mei 2026 menjadi hanya USD 0,60 pada akhir Agustus 2026, yang mana angka tersebut jatuh di bawah batas minimum aturan Nasdaq. Melalui kesepakatan merger ini, Starman Optical akan memberikan dana tunai sebesar USD 1,14 per saham, sekaligus berkomitmen melunasi seluruh beban utang perusahaan senilai USD 92 juta secara penuh saat transaksi rampung pada akhir tahun ini. Di sisi lain, pemegang saham GoPro juga dipastikan masih akan mempertahankan sekitar 10 persen kepemilikan di entitas gabungan yang baru.
Fokus Baru Infrastruktur AI dan Manuver Markiplier
Kehadiran Starman Optical di tubuh perusahaan membawa dimensi baru bagi arah bisnis produsen kamera legendaris tersebut ke depannya. Sebagai perusahaan rintisan asal New Jersey, Starman memiliki fokus utama memproduksi transceiver optik berkecepatan tinggi yang secara khusus dirancang untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Pada awal pengumuman kesepakatan, kolaborasi lintas sektor antara kedua entitas ini bahkan disebut akan menyasar area keamanan nasional yang berkaitan erat dengan integrasi kamera, sistem optik, dan infrastruktur AI.
Sementara itu, menjelang pengumuman akuisisi yang mengejutkan pasar ini, terdapat sebuah manuver finansial menarik yang luput dari sorotan utama publik. Kreator konten YouTube ternama, Mark “Markiplier” Fischbach, dilaporkan telah diam-diam memborong 8,5 persen saham GoPro sebelum kesepakatan diresmikan. Pembelian dalam jumlah masif tersebut otomatis menjadikannya sebagai salah satu pemegang saham individu terbesar di dalam struktur kepemilikan, meskipun namanya sama sekali tidak disinggung dalam surat resmi maupun dokumen dari jajaran eksekutif GoPro.
Janji Setia GoPro pada Kamera Konsumen
Transisi bisnis yang mulai menyinggung infrastruktur AI ini rupanya sempat memicu kekhawatiran di kalangan pelanggan setia yang takut GoPro akan perlahan meninggalkan pasar konsumen. Merespons kegelisahan tersebut, CEO GoPro Nick Woodman segera merilis sebuah surat terbuka yang menegaskan bahwa produksi kamera aksi untuk konsumen dan profesional tetap menjadi DNA inti dari perusahaan. Woodman menjelaskan bahwa kehadiran Starman justru memposisikan GoPro di tempat yang jauh lebih baik untuk memajukan masa depan inovasi pembuatan konten.
Ke depannya, dana segar dan kebebasan finansial dari merger ini diproyeksikan akan mengalir langsung ke divisi riset dan pengembangan produk. Seperti yang diungkapkan oleh sang CEO, fokus utama mereka saat ini adalah menggunakan dana tersebut untuk merancang lini kamera yang lebih inovatif, deretan aksesori pintar, serta ekosistem perangkat lunak yang jauh lebih tangguh. Pada akhirnya, kesepakatan ini tidak hanya mengamankan napas GoPro untuk tetap beroperasi secara independen, tetapi juga membuka babak baru evolusi mereka di tengah gempuran tren teknologi mutakhir.
