Data Penggunaan Emoji Global 2025 Tunjuk Beda Generasi

Data Penggunaan Emoji Global 2025 Tunjuk Beda Generasi

Emoji yang kamu pilih saat kirim chat atau berkomentar di media sosial ternyata bisa menjadi petunjuk soal generasimu. Data penggunaan emoji global sepanjang 2025 menunjukkan bahwa emoji menangis keras (😭) kini merebut posisi puncak sebagai emoji paling populer di dunia, menggeser dua emoji legendaris yang selama ini identik dengan ekspresi tawa: emoji tertawa berguling (🤣) dan air mata bahagia (😂). Pergeseran ini bukan sekadar perubahan peringkat biasa, melainkan cerminan dari evolusi bahasa digital antargeneras yang tengah berlangsung.

Google mengumpulkan data dari sampel anonim sekitar 665 juta emoji yang digunakan pengguna Gboard di seluruh dunia—aplikasi keyboard yang terpasang di sebagian besar perangkat Android. Hasilnya cukup mengejutkan: emoji menangis keras yang sebelumnya berada di posisi keempat pada 2024, langsung melompati tiga peringkat sekaligus untuk menjadi yang teratas di 2025. Menariknya, dominasi emoji ini didorong oleh perubahan cara generasi muda, terutama Gen Z dan Gen Alpha, menggunakannya dalam percakapan digital.

Emoji “Nangis Kejer” Jadi Ekspresi Serbaguna

Menurut analisis The New York Times yang menelaah pola penggunaan emoji di berbagai forum Reddit, emoji menangis keras kini telah berkembang menjadi simbol serbaguna di kalangan anak muda. Emoji yang awalnya dirancang untuk mengekspresikan kesedihan itu kini dipakai dalam beragam konteks—mulai dari sesuatu yang sangat lucu, mengharukan, memalukan, hingga emosi yang begitu kuat sampai “rasanya mau nangis”. Jadi, kalau dulu generasi lebih tua membalas candaan dengan deretan emoji tertawa sampai keluar air mata, sekarang anak muda justru mengirim deretan emoji nangis kejer untuk maksud yang sama. Emosinya tetap “ngakak”, hanya representasi visualnya yang berganti.

Sementara itu, emoji hati merah (❤️) berhasil mempertahankan posisinya di peringkat keempat, diikuti oleh emoji dua tangan menyatu (🙏) yang naik ke posisi kelima. Emoji tangan menyatu ini sangat familier bagi pengguna internet Indonesia, sering dipakai untuk mengucapkan terima kasih, meminta tolong, memohon maaf, atau bahkan menemani kalimat sakti “#izin” di grup WhatsApp. Di posisi keenam, emoji wajah meniup ciuman (😘) turun satu tingkat dari tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa pola penggunaan emoji terus bergeser seiring waktu.

Perbedaan Generasi Makin Kentara

Karena data Google tidak memuat informasi demografi, The New York Times menganalisis forum Reddit yang mewakili kelompok usia berbeda untuk melihat perbedaan pola penggunaan emoji. Hasilnya menunjukkan bahwa tiap generasi mengekspresikan perasaan serupa dengan pilihan emoji yang berbeda. Anak muda kini cenderung menggunakan emoji api (🔥) untuk memberikan pujian atau menunjukkan bahwa sesuatu dianggap keren, sementara pengguna yang lebih tua—seperti Gen X—masih setia dengan emoji angka seratus (💯) untuk maksud yang sama.

Lebih lanjut, emoji acungan jempol (👍) yang selama bertahun-tahun menjadi cara praktis mengatakan “oke” atau “setuju” kini mulai dipandang sebagai tanda ketinggalan zaman. Ahli bahasa Adam Aleksic bahkan menjuluki jempol sebagai “emoji boomer”. Meski begitu, emoji ini tidak sepenuhnya ditinggalkan—sebagian anak muda justru menggunakannya secara post-ironic, alias sengaja memakai sesuatu yang dianggap kuno sehingga menjadi lucu lagi. Secara global, jempol masih bertengger di peringkat kedelapan pada 2025, meskipun turun dari posisi ketujuh tahun sebelumnya.

Emoji Baru Naik Daun, Emoji Lama Diganti

Fenomena menarik lainnya adalah lonjakan popularitas emoji moai (🗿)—patung batu abu-abu raksasa berbentuk manusia yang melompat dari peringkat 482 langsung ke posisi 33. Gen Z menggunakan emoji ini untuk menunjukkan respons sarkastis atau sikap cuek. Begitu pula dengan emoji mawar layu (🥀) yang semakin sering dipakai remaja untuk mengekspresikan kesedihan, patah hati, atau kelelahan emosional, menggantikan posisi emoji patah hati (💔) yang sebelumnya populer.

Sali A. Tagliamonte, profesor linguistik di University of Toronto, menjelaskan bahwa remaja—khususnya gadis remaja—selalu berada di garis depan perubahan linguistik. Tren emoji berubah dengan cepat, dan begitu generasi yang lebih tua mulai sering menggunakan emoji tertentu, pengguna yang lebih muda cenderung berhenti menggunakannya dan beralih ke simbol baru yang terasa lebih segar dan relevan bagi mereka. Meski kini tersedia lebih dari 3.600 emoji, 10 emoji teratas sebagian besar tetap tidak berubah selama beberapa tahun terakhir—yang berganti hanyalah peringkat dan intensitas penggunaannya, seiring bahasa digital terus berevolusi mengikuti dinamika generasi penggunanya.

Sumber

Similar Posts