Sidang Meta Terkait Privasi Anak dan Desain Adiktif
Raksasa media sosial Meta kini menghadapi salah satu tantangan hukum terberat dalam sejarahnya. Di pengadilan federal Oakland, California, perusahaan pemilik Facebook dan Instagram itu digugat oleh 29 negara bagian Amerika Serikat dengan tuduhan melanggar undang-undang privasi anak dan merancang platform yang sengaja membuat anak-anak kecanduan. Sidang yang dibuka pada 18 Agustus 2026 ini digelar di bawah pengawasan Hakim Kepala Distrik Yvonne Gonzalez Rogers, dengan ancaman denda yang mencapai 200 miliar dolar AS—setara dengan total pendapatan tahunan Meta sepanjang 2025.
Strategi “Hook, Hold, Harvest, Hide” yang Dituduhkan kepada Meta
Dalam pernyataan pembukaan, Megan O’Neill, Wakil Jaksa Agung California, mengungkapkan apa yang ia sebut sebagai strategi inti Meta: hook, hold, harvest, hide—menarik pengguna masuk, menahan mereka selama mungkin di platform, memanen data mereka, lalu menyembunyikan kebenaran dari publik. “Model bisnis Meta bekerja sangat baik untuk anak-anak,” ujar O’Neill. Menurutnya, Meta sengaja merancang berbagai fitur di Facebook dan Instagram agar bekerja secara individual maupun kolektif untuk menarik anak-anak masuk ke aplikasi dan membuat mereka terus kembali.
Inti gugatan ini terletak pada tuduhan bahwa Meta melanggar Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA), undang-undang federal AS yang melindungi privasi anak di bawah 13 tahun. Para jaksa dari California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey—yang memimpin gugatan bersama 25 negara bagian lainnya—menuduh Meta mengumpulkan data pribadi anak-anak tanpa izin orang tua. Selain itu, mereka juga menuduh perusahaan membuat pernyataan menyesatkan tentang cara kerja platformnya, yang melanggar undang-undang perlindungan konsumen tingkat negara bagian.
Kesaksian Mantan Karyawan dan Respons Meta
Salah satu momen penting dalam minggu pertama sidang adalah kesaksian Arturo Bejar, mantan karyawan Meta yang telah menjadi saksi kunci dalam beberapa persidangan sebelumnya. Bejar, yang pernah bekerja langsung di perusahaan tersebut, memberikan pandangan dari dalam tentang bagaimana keputusan desain produk dibuat—seringkali, menurutnya, dengan mengabaikan keamanan anak demi mengejar pertumbuhan jumlah pengguna. Kesaksiannya memperkuat narasi bahwa CEO Meta Mark Zuckerberg dan jajaran eksekutif lainnya, termasuk CEO Instagram Adam Mosseri, lebih memprioritaskan ekspansi platform ketimbang menyaring fitur-fitur yang berpotensi membahayakan anak-anak.
Di sisi lain, Meta membantah semua tuduhan dengan tegas. Paul Schmidt, pengacara utama perusahaan, menekankan bahwa Meta telah membangun puluhan fitur keamanan dalam aplikasinya selama beberapa tahun terakhir dan terus berkomitmen untuk memperbaiki platformnya. Ia menyatakan bahwa lebih dari 1 juta akun anak di bawah 13 tahun telah dinonaktifkan oleh perusahaan, menunjukkan upaya serius dalam menegakkan kebijakan usia minimum. Schmidt juga menggeser sebagian tanggung jawab kepada pengguna, mengakui bahwa “tidak dapat dipungkiri” beberapa anak berhasil masuk ke platform Meta dan beberapa remaja “kesulitan mengatur waktu mereka” di media sosial. Tak hanya itu, Meta juga mengandalkan perlindungan hukum dari Pasal 230 Communications Decency Act 1996, yang pada dasarnya menyatakan bahwa platform tidak bertanggung jawab atas konten yang diunggah oleh penggunanya.
Taruhan Besar dan Keputusan yang Menentukan Masa Depan
Sidang yang diperkirakan akan berlangsung selama 6 hingga 8 minggu ini bukan sekadar soal denda, meskipun ancaman finansialnya sangat besar. Para jaksa juga menuntut Meta untuk mengubah desain produknya secara fundamental agar lebih aman bagi anak-anak—sebuah tuntutan yang, jika dikabulkan, bisa mengubah model bisnis inti perusahaan secara permanen. Delapan juri yang mendengarkan argumen kedua belah pihak akan memberikan rekomendasi kepada Hakim Rogers, yang pada akhirnya akan membuat keputusan final terkait vonis dan besaran denda.
Tekanan pada Meta semakin berat mengingat perusahaan ini telah kalah dalam dua persidangan serupa pada Maret 2026. Saat itu, Meta harus membayar hampir 1 miliar dolar AS kepada negara bagian New Mexico karena dianggap sebagai “gangguan publik” dan menyebabkan kerugian psikologis pada anak-anak. Perusahaan juga harus membayar 4 juta dolar AS kepada satu korban yang terbukti dirugikan oleh desain adiktif platformnya. Kini, dengan 29 negara bagian bersatu menggugat, Meta menghadapi ujian terberat yang bisa menentukan arah masa depan regulasi media sosial dan perlindungan anak di era digital.
