Startup Phia Milik Phoebe Gates Dituduh Manipulasi Komisi Afiliasi
Phia, startup berbasis kecerdasan buatan yang digagas oleh Phoebe Gates—putri miliarder Bill Gates—dan Sophia Kianni, kini terseret dalam kontroversi serius. Investigasi yang dilakukan Bloomberg, peneliti Ben Edelman, serta Capital One Shopping menemukan bukti bahwa ekstensi browser Phia melakukan praktik cookie stuffing, sebuah manipulasi teknis yang memungkinkan perusahaan mengklaim komisi afiliasi dari penjualan yang sebenarnya tidak mereka hasilkan sendiri. Temuan ini tidak hanya memicu pertanyaan tentang etika bisnis startup yang baru berusia setahun lebih ini, tetapi juga berujung pada pembekuan akun Phia oleh Impact.com, salah satu platform afiliasi terkemuka di industri.
Phia diluncurkan pada 2025 dengan proposisi menarik: membantu konsumen menemukan harga termurah dari berbagai peritel daring, lengkap dengan kode diskon otomatis—fungsi yang mirip dengan Google Flights, tetapi untuk belanja online. Startup ini berhasil menarik perhatian besar sejak awal, mencapai peringkat ke-21 di Apple App Store pada minggu pertama peluncuran, dan mengumpulkan lebih dari 500.000 unduhan pada September 2025. Kesuksesan awal ini didukung oleh pendanaan sebesar 40 juta dolar AS dari sederet investor ternama, termasuk selebriti seperti Khloé Kardashian, Hailey Bieber, dan Sydney Sweeney. Model bisnisnya mengandalkan affiliate marketing, di mana Phia menerima komisi setiap kali pengguna berbelanja melalui platform mereka.
Investigasi Ungkap Manipulasi Kode Referral
Namun, di balik kesuksesan tersebut, investigasi independen menemukan praktik yang bermasalah. Menurut laporan Bloomberg yang dirilis pada Juli 2026, ekstensi Phia secara diam-diam membuka tab kedua di latar belakang saat pengguna melakukan pembayaran di situs peritel daring—bahkan ketika pengguna mengakses situs tersebut secara langsung atau melalui program afiliasi lain seperti Wirecutter. Dalam proses checkout, ekstensi ini kemudian menimpa kode referral asli dari afiliasi sah dengan kode milik Phia sendiri, sehingga kredit penjualan dan potensi komisi berpindah tangan secara tidak wajar. Ben Edelman, peneliti yang menerbitkan analisis mendalam tentang kasus ini, bahkan menyertakan video yang menunjukkan bagaimana tautan afiliasi Phia dimuat secara tersembunyi di tab kedua pada perangkat iOS.
Dalam pengujian yang dilakukan Bloomberg, tim mereka mengikuti tautan ke situs peritel fesyen Nordstrom dari artikel Wirecutter yang membahas promosi diskon. Alih-alih memberikan kredit kepada Wirecutter, ekstensi Phia justru menggantikan informasi referral tersebut dengan miliknya sendiri selama proses pembayaran. Praktik ini dikenal sebagai cookie stuffing—sebuah taktik yang memungkinkan pihak ketiga membajak komisi afiliasi dari pihak yang seharusnya berhak menerimanya. Fitur yang memungkinkan praktik ini baru dirilis pada Desember 2025, beberapa bulan setelah peluncuran awal Phia.
Phia Sebut Bug, Perbaiki dalam 24 Jam
Menanggapi temuan investigasi, juru bicara Phia membantah adanya unsur kesengajaan dan menyebut masalah ini sebagai bug perangkat lunak, bukan praktik bisnis yang dirancang. Dalam pernyataannya kepada Bloomberg, perusahaan menegaskan bahwa dalam 24 jam setelah menerima laporan, tim teknis mereka bekerja sepanjang malam untuk mengidentifikasi, memitigasi, dan menyelesaikan masalah yang menyebabkan “salah atribusi” dari sebagian pengguna. Pengujian ulang yang dilakukan Bloomberg setelah Phia mengklaim telah memperbaiki kode tersebut menunjukkan bahwa ekstensi memang sudah berhenti mengklaim klik rujukan palsu. Meski demikian, belum jelas apakah perbaikan ini cukup untuk memuaskan para peritel dan mitra afiliasi yang bekerja sama dengan Phia.
Konsekuensi dan Preseden Hukum
Dampak dari kontroversi ini langsung terasa: Impact.com, platform afiliasi dan influencer terkemuka, menangguhkan akun Phia menyusul temuan investigasi. Langkah ini menunjukkan keseriusan tuduhan yang dihadapi startup tersebut, terutama mengingat preseden serupa di industri ini. Honey, layanan ekstensi browser pencari kupon yang kini dimiliki PayPal, masih menghadapi gugatan hukum class action terkait praktik cookie stuffing yang serupa. Kasus Honey menunjukkan bahwa masalah semacam ini bukan hanya soal reputasi, tetapi juga bisa berujung pada konsekuensi hukum yang serius bagi perusahaan teknologi yang mengandalkan model bisnis afiliasi.
Kontroversi yang menimpa Phia menjadi pengingat bahwa transparansi dan etika bisnis tetap krusial, bahkan di tengah pesatnya pertumbuhan startup teknologi. Bagi Phoebe Gates dan Sophia Kianni, yang membangun Phia dengan dukungan pendanaan besar dan nama-nama investor ternama, kasus ini menjadi ujian pertama terhadap kredibilitas perusahaan mereka. Ke depan, industri affiliate marketing kemungkinan akan semakin mengawasi praktik teknis semacam ini, terutama setelah preseden Honey dan kini Phia menunjukkan betapa mudahnya teknologi disalahgunakan untuk memanipulasi sistem komisi yang seharusnya adil dan transparan.
