Deportasi Tokoh Sayap Kanan Milo Yiannopoulos dari AS

Deportasi Tokoh Sayap Kanan Milo Yiannopoulos dari AS

Tokoh kontroversial sayap kanan Milo Yiannopoulos telah dideportasi dari Amerika Serikat setelah ditahan oleh pihak Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Louisiana pada hari Kamis lalu. Departemen Keamanan Dalam Negeri mengonfirmasi kepada Reuters dan Washington Post bahwa pria berkewarganegaraan Inggris ini telah dipulangkan ke negara asalnya setelah melanggar aturan visa. Penahanan ini pertama kali dilaporkan oleh TMZ, dan catatan ICE menunjukkan bahwa keluarga atau perwakilan hukumnya diarahkan untuk menghubungi kantor Penegakan dan Pemindahan di Alexandria, Louisiana, sebuah pusat pemrosesan untuk bagian tengah negara bagian tersebut, sekitar 200 mil dari New Orleans.

Pelanggaran Visa dan Proses Hukum

Yiannopoulos masuk ke Amerika Serikat secara legal pada tahun 2019 menggunakan visa O-1, yang diperuntukkan bagi individu dengan kemampuan luar biasa di bidang seni, sains, jurnalisme, dan bidang lainnya. Namun, ia melanggar ketentuan dengan menetap melebihi batas waktu yang diizinkan. Setelah mangkir dari sidang imigrasi, otoritas mengeluarkan perintah deportasi final pada 22 Juli lalu. Meskipun telah lama tinggal dan bekerja di AS, Yiannopoulos tidak pernah menjadi warga negara Amerika. Deportasi ini dilaksanakan tepat menjelang jadwal konser Kanye West di Caesars Superdome, New Orleans, yang direncanakan pada Jumat malam sebagai bagian dari tur 2026, di mana Yiannopoulos menjabat sebagai juru bicara rapper tersebut.

Jejak Karier dan Kontroversi

Tokoh ini memulai kariernya di dunia politik Amerika sebagai editor situs berita sayap kanan Breitbart milik Steve Bannon dari tahun 2014 hingga 2017. Jabatannya berakhir setelah komentarnya yang menoleransi hubungan seksual antara orang dewasa dan anak di bawah umur memicu kemarahan publik. Yiannopoulos juga dikenal sebagai tokoh kunci dalam kampanye pelecehan daring Gamergate yang kontroversial pada pertengahan 2010-an.

Selain itu, ia memiliki sejarah panjang dengan berbagai tokoh politik sayap kanan Amerika. Yiannopoulos menikahi pasangan jangka panjangnya di Hawaii pada tahun 2017, namun pada 2021 mengklaim telah menjadi heteroseksual dan Katolik Roma, serta mengumumkan rencana membuka fasilitas terapi konversi gay di Florida. Pada tahun 2022, Yiannopoulos mengklaim telah mengatur makan malam kontroversial yang mempertemukan Donald Trump, rapper Kanye West, dan tokoh nasionalis kulit putih Nick Fuentes di Mar-a-Lago “untuk membuat hidup Trump menderita.” Ia pernah bekerja untuk Nick Fuentes serta mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene.

Hubungannya dengan Kanye West kerap putus-sambung sejak ia bergabung dengan kampanye presiden teoretis West di akhir 2022, namun pergi beberapa hari setelah rapper tersebut mengutarakan keyakinan Nazi dan memuji Adolf Hitler di livestream InfoWars milik konspirator Alex Jones. Keduanya terus bersatu dan berpisah selama bertahun-tahun berikutnya. Dalam berbagai unggahan di platform X pada tahun 2024, Yiannopoulos bahkan mengklaim bahwa West kecanduan nitrogen oksida.

Ironi dan Reaksi Rivalitas Politik

Sepanjang evolusinya sebagai figur MAGA, Yiannopoulos jarang menghindar dari pertarungan publik dengan musuh dan rivalnya. Salah satu yang paling vokal adalah Laura Loomer—seorang konspirator Islamofobia—yang merayakan penahanan ini melalui platform X dan mengklaim berjasa melaporkan status ilegal Yiannopoulos kepada otoritas. “Saya adalah orang pertama yang melaporkan fakta bahwa Milo berada di AS secara ilegal di mana ia menghasut kekerasan terhadap Presiden Trump dan bekerja untuk Marjorie Traitor Greene,” tulis Loomer dalam unggahan yang ia pin di akun X-nya pada hari Jumat. Loomer juga menambahkan bahwa Yiannopoulos akan dideportasi kembali ke Inggris “di mana ia bisa hidup di antara Muslim yang baru-baru ini ia pilih untuk dipeluk.”

Deportasi Yiannopoulos menandai babak baru dalam perjalanan panjangnya sebagai provokator politik yang kerap berganti peran dalam lingkaran sayap kanan Amerika. Setelah lebih dari satu dekade membangun—dan merusak—reputasinya di AS, ia kini harus kembali ke Inggris dengan warisan kontroversi yang melekat erat pada namanya.

Sumber

Similar Posts