Meta Batal Ganti Karyawan dengan AI Akibat Kegagalan Sistem dan Protes

Meta Batal Ganti Karyawan dengan AI Akibat Kegagalan Sistem dan Protes

Raksasa teknologi Meta sempat merancang rencana ambisius untuk mengubah seluruh struktur organisasinya dengan menempatkan agen AI sebagai pengganti ribuan pekerja manusia. Namun, rencana bernama Project OT (Organization Transformation) ini akhirnya dibatalkan oleh CEO Mark Zuckerberg setelah menghadapi sejumlah kendala teknis serius dan gelombang protes dari karyawan yang merasa posisi mereka terancam.

Visi “AI Native” yang Terinspirasi Startup Asia

Pada pertemuan tahunan eksekutif Meta di kediaman Mark Zuckerberg di Hawaii pada Januari lalu, para petinggi perusahaan menyusun visi besar untuk menjadikan Meta sebagai perusahaan “AI native”. Konsep ini terinspirasi oleh struktur kerja startup-startup di Asia yang telah lebih dulu mengadopsi AI secara masif dalam operasional mereka. Dalam visi tersebut, agen AI akan mengambil alih sebagian besar tugas harian karyawan, sementara kelompok kecil pekerja manusia bertugas mengawasi kinerja teknologi tersebut.

Rencana ini melibatkan perubahan struktural yang cukup radikal — posisi-posisi spesialis seperti desainer, teknisi, dan manajer produk akan digabungkan menjadi peran umum bernama “builder”. Lapisan manajemen menengah akan dipangkas secara signifikan, dan prioritas kerja harian akan ditentukan melalui “agent-assisted analysis”. Bahkan dalam skenario paling agresif, Meta mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran beberapa tim hingga 60 persen melalui kombinasi PHK, penutupan posisi terbuka, dan pemangkasan karyawan berperforma rendah.

Untuk mendukung pengembangan agen AI ini, Meta bahkan memasang perangkat lunak pelacak pada komputer karyawan yang merekam setiap klik keyboard dan gerakan mouse. Data ini digunakan untuk melatih agen AI agar dapat meniru cara manusia berinteraksi dengan komputer. Sementara itu, tim yang dipimpin Wakil Kepala Manajemen Produk Ime Archibong menyusun panduan khusus berjudul AI-Native Playbook untuk memandu tim-tim lain dalam transisi ke era AI ini.

Kegagalan Performa dan Lonjakan Insiden Teknis

Meski rencana ini terdengar futuristik, implementasinya jauh dari mulus. Data internal Meta menunjukkan bahwa meskipun perubahan kode pada platform dan infrastruktur AI perusahaan melonjak hingga 220 persen dalam setahun, produktivitas nyata yang dirasakan pengguna hanya meningkat 36 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, insiden teknis dan potensi kebocoran keamanan justru meningkat 40 persen, sementara waktu yang dibutuhkan karyawan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut membengkak hingga 70 persen.

Agen AI tanpa pengawasan memadai dilaporkan melakukan “tindakan disruptif skala besar” yang mengganggu operasional perusahaan. Pada Juli, Zuckerberg sendiri mengakui dalam sebuah pertemuan internal bahwa ia terlalu optimis dalam memperkirakan kecepatan perkembangan teknologi AI. “Lintasan pengembangan agentic setidaknya dalam empat bulan terakhir tidak benar-benar mengalami percepatan seperti yang kami harapkan,” ujarnya, sambil mengakui bahwa investasi perusahaan dalam agen AI belum membuahkan hasil yang diharapkan.

Protes Karyawan dan Pembatalan Gelombang PHK Kedua

Selain masalah teknis, Meta juga menghadapi perlawanan keras dari dalam. Setelah melakukan PHK terhadap 10 persen stafnya pada Mei — yang merupakan gelombang pertama dari rencana awal — karyawan mulai memprotes keras di platform komunikasi internal Workplace. Mereka keberatan terhadap pelacakan aktivitas komputer dan rencana PHK massal yang dinilai mengancam mata pencaharian mereka. Sentimen positif karyawan anjlok drastis dari 74 persen menjadi hanya 55 persen, penurunan sebesar 19 poin yang mencerminkan ketidakpuasan luas terhadap kebijakan perusahaan.

Penolakan ini bahkan memicu penguatan upaya pengorganisasian serikat pekerja internal, sesuatu yang selama ini jarang terjadi di perusahaan teknologi besar seperti Meta. Menghadapi kombinasi kegagalan teknis dan protes karyawan, Zuckerberg akhirnya membatalkan gelombang kedua PHK yang dijadwalkan pada November. Meta kemudian mengklaim bahwa rencana agresif tersebut hanyalah “latihan perencanaan skenario” untuk melihat dampak potensial dari berbagai kemungkinan restrukturisasi, dan perusahaan sejak awal tidak pernah mengasumsikan akan menjalankan setiap skenario tersebut.

Kasus Meta ini menjadi pengingat penting bahwa meskipun AI menawarkan potensi efisiensi yang besar, teknologi ini masih jauh dari sempurna untuk menggantikan pekerja manusia dalam skala masif. Pengalaman ini menunjukkan bahwa transisi ke era “AI native” memerlukan pendekatan yang lebih matang, teknologi yang lebih andal, dan — yang tidak kalah penting — penerimaan dari karyawan yang akan terkena dampaknya. Bagi perusahaan teknologi lain yang tengah mempertimbangkan langkah serupa, pengalaman Meta mungkin patut dijadikan pelajaran berharga.

Sumber

Similar Posts