Kontroversi Privasi dan Aturan Baru Kacamata Pintar Ray-Ban Meta

Kontroversi Privasi dan Aturan Baru Kacamata Pintar Ray-Ban Meta

Kacamata pintar Ray-Ban Meta kembali menjadi sorotan setelah seorang kreator konten Indonesia merekam usher di pameran otomotif GIIAS 2026 tanpa izin menggunakan perangkat tersebut. Video yang diunggah dengan narasi “cara deketin cewek” memicu gelombang kritik dari warganet karena dinilai melanggar privasi, sekaligus menyoroti celah etika dalam penggunaan teknologi wearable camera yang kian populer di kalangan pembuat konten.

Lampu Indikator Perekaman Dimodifikasi, Meta Ambil Langkah Tegas

Kacamata Ray-Ban Meta sebenarnya dilengkapi lampu LED putih yang berkedip saat kamera aktif merekam atau memotret, dirancang khusus agar orang di sekitar mengetahui bahwa mereka sedang direkam. Namun, sejumlah pengguna nakal menemukan cara untuk memodifikasi atau menutupi lampu tersebut, sehingga memungkinkan perekaman diam-diam tanpa sepengetahuan target.

Merespons praktik yang meresahkan ini, Meta merilis pembaruan perangkat lunak yang secara otomatis menonaktifkan kamera jika sistem mendeteksi lampu indikator ditutupi, dibor, atau dilepas. “Kamera akan dinonaktifkan ketika kami mendeteksi capture LED ditutupi. Foto maupun video tidak dapat diambil hingga lampu kembali terlihat,” tulis perusahaan dalam laman tanya jawab resminya. Meta juga mengancam akan menempuh jalur hukum terhadap pihak yang menawarkan jasa modifikasi lampu indikator, termasuk menghapus iklan dan memblokir akun pelanggar di media sosial serta Marketplace.

Smart Glasses untuk Konten POV, Bukan untuk Mengintip

Tech reviewer Wasa Wirman menegaskan bahwa kacamata pintar pada dasarnya dirancang untuk merekam konten dari sudut pandang orang pertama (POV), bukan untuk mengintip atau merekam orang lain secara tersembunyi. “Kalau ngomongin Ray-Ban Meta, sebenarnya kameranya nggak benar-benar tersembunyi. Dari depan masih kelihatan dua bulatan kamera di dekat engsel, dan saat merekam juga ada lampu LED sebagai indikator,” jelasnya kepada detikINET.

Menurutnya, perangkat ini sangat cocok untuk dokumentasi aktivitas pribadi seperti traveling, bersepeda, atau membuat video unboxing tanpa harus repot membawa tripod atau kamera tambahan. Namun, saat orang lain menjadi fokus utama rekaman, pengguna wajib meminta izin terlebih dahulu. “Kalau orangnya jadi inti cerita, ya seharusnya minta izin dulu. Ini kan soal etika dasar,” tegasnya.

Penjualan Melonjak di Tengah Perdebatan Privasi

Terlepas dari kontroversi yang terus bergulir, penjualan kacamata pintar Meta justru meningkat tajam. EssilorLuxottica melaporkan bahwa penjualan Ray-Ban Meta sepanjang 2025 naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, Google dan Samsung bersiap meluncurkan produk sejenis akhir tahun ini, sedangkan Apple kabarnya menunda peluncuran kacamata pintarnya hingga 2027 untuk menyelesaikan berbagai isu privasi yang kompleks.

Aktivis privasi dari Electronic Frontier Foundation menyebut kacamata pintar berpotensi lebih berbahaya dibandingkan ponsel karena desainnya yang tersamar. Meski begitu, sejumlah merek pesaing mencoba menawarkan solusi privasi yang berbeda untuk menarik konsumen. Even Realities, misalnya, memproduksi kacamata pintar tanpa kamera sama sekali, sementara Solos menyediakan penutup lensa fisik yang dapat dipasang pengguna di lingkungan sensitif.

Fitur Pengenalan Wajah yang Kontroversial

Meta sempat mengembangkan fitur pengenalan wajah bernama Name Tag yang bisa mengenali identitas orang berdasarkan wajah mereka. Namun, setelah ekspos media mengungkap keberadaan fitur tersebut, perusahaan akhirnya menghapus kode program tersebut dari aplikasinya. CTO Meta Andrew Bosworth mengonfirmasi keberadaan fitur itu dalam sebuah podcast, meskipun perusahaan tidak pernah meluncurkannya secara resmi ke publik.

Kebijakan baru Meta ini muncul setelah sejumlah institusi di Amerika Serikat mulai membatasi penggunaan kacamata berkamera di area tertentu. Langkah tegas perusahaan menunjukkan kesadaran bahwa pertumbuhan pasar kacamata pintar harus diimbangi dengan perlindungan privasi yang kuat, jika tidak ingin teknologi ini kehilangan kepercayaan publik sebelum sempat matang.

Sumber

Similar Posts