Gugatan Pencurian Rahasia Dagang Apple terhadap OpenAI

Gugatan Pencurian Rahasia Dagang Apple terhadap OpenAI

Perseteruan hukum antara dua raksasa teknologi, Apple dan OpenAI, kian memanas setelah Apple mengajukan gugatan pencurian rahasia dagang pada Juli 2026. Kasus ini tidak hanya melibatkan tuduhan serius terhadap mantan karyawan Apple yang kini bekerja di OpenAI, tetapi juga mengungkap ambisi OpenAI untuk merambah pasar perangkat keras AI—wilayah yang selama ini menjadi benteng Apple.

Tuduhan Apple: Skema Pencurian Sistematis

Apple menuduh OpenAI menjalankan skema terstruktur untuk mencuri informasi rahasia melalui mantan karyawannya. Dalam gugatan tersebut, Apple secara khusus menyebut nama Chang Liu, mantan insinyur sistem senior, dan Tang Yew Tan, mantan VP desain produk yang mengabdi 24 tahun di Apple, sebagai pihak yang diduga membawa rahasia perusahaan ke OpenAI. Menurut Apple, Liu mengakses dan mengunduh puluhan file rahasia terkait perangkat keras, termasuk spesifikasi teknis produk yang belum dirilis, sementara Tan diduga mengarahkan kandidat yang masih bekerja di Apple untuk membawa komponen fisik saat wawancara kerja di OpenAI.

Lebih jauh, investigasi internal Apple yang masih berjalan telah mengidentifikasi 11 mantan karyawan lain yang diduga terlibat atau menjadi saksi dalam kasus ini, termasuk Yu-Ting Peng yang sebelumnya sudah disebutkan dalam pengaduan awal. Apple juga mengklaim menemukan bukti bahwa mantan karyawan lain mengambil tangkapan layar dokumen rahasia sebelum wawancara di OpenAI, bahkan ada yang bertemu dengan Liu dan Peng untuk membahas informasi proprietary terkait produk yang belum diumumkan. Temuan tambahan ini mendorong Apple untuk meminta penemuan dipercepat (expedited discovery) dan perintah pengadilan awal (preliminary injunction) guna menghentikan OpenAI mengembangkan perangkat keras berbasis teknologi yang diduga dicuri.

Bantahan Keras OpenAI: Apple yang Gagal Kelola Keamanan

OpenAI tidak tinggal diam. Perusahaan pembuat ChatGPT ini membantah keras seluruh tuduhan Apple dan menyebut gugatan tersebut “ceroboh, agresif, dan anehnya bersifat personal.” Dalam respons panjang yang dipublikasikan di situs webnya, OpenAI bahkan merilis log obrolan dan email untuk membuktikan bahwa justru karyawan Apple-lah yang menghubungi Chang Liu setelah ia keluar dari perusahaan, meminta bantuan mencari lokasi file tertentu. Hal ini, menurut OpenAI, membuktikan bahwa masalah sebenarnya terletak pada kegagalan sistem keamanan Apple dalam mencabut hak akses mantan karyawan—sebuah masalah yang disebutnya sebagai “residual access” dan terjadi secara sistemik.

Presiden OpenAI Greg Brockman menegaskan bahwa perusahaannya tidak tertarik dan tidak membutuhkan rahasia dagang perusahaan lain. “Kami sangat inovatif. Kami memikirkan berbagai hal dari sudut pandang kami sendiri. Dan itulah cara kami beroperasi,” ujar Brockman dalam wawancara dengan Joanna Stern seperti dilaporkan MacRumors. Ia juga membela Tang Yew Tan, menyatakan bahwa Tan selalu menekankan kepada timnya untuk tidak menggunakan informasi rahasia dari perusahaan lain. Menariknya, OpenAI juga mengungkap kesalahan administratif Apple sebelum gugatan resmi diajukan—pada Februari 2026, Apple mengirim email peringatan kepada orang yang salah akibat kebingungan membedakan nama belakang Asia, dan bahkan dituduh berbohong soal diskusi dengan penasihat umum OpenAI.

Ambisi Perangkat Keras OpenAI di Tengah Sengketa

Di balik sengketa hukum ini, OpenAI tengah mengembangkan lini perangkat keras AI pertamanya—sebuah speaker pintar portabel tanpa layar yang dirancang sebagai pendamping AI mirip manusia. Proyek ambisius ini melibatkan Jony Ive, mantan desainer utama Apple yang legendaris, melalui startup io Products miliknya. OpenAI bahkan mengakuisisi io Products senilai $6,5 miliar, dan entitas tersebut kini turut menjadi tergugat bersama dalam gugatan Apple—meskipun nama Ive sendiri tidak disebutkan secara eksplisit dalam dokumen pengadilan.

Brockman menolak memberikan tanggal pasti peluncuran perangkat keras pertama OpenAI, dengan alasan proses litigasi yang masih berjalan. Namun, ia menegaskan komitmen perusahaan pada peta jalan jangka panjang untuk menciptakan perangkat yang dirancang khusus untuk era AI. OpenAI juga sedang mengembangkan chip mandiri dan menggarap beberapa perangkat sekaligus, menandakan keseriusan perusahaan untuk tidak hanya dominan di sektor perangkat lunak AI, tetapi juga merambah pasar perangkat keras yang menguntungkan.

Kasus ini menggarisbawahi persaingan ketat antara dua visi berbeda tentang masa depan AI: Apple yang melindungi ekosistem tertutupnya dengan ketat, dan OpenAI yang ingin menciptakan perangkat AI inovatif dengan pendekatan yang diklaim lebih terbuka. Sementara perseteruan hukum ini terus bergulir, industri teknologi menanti bagaimana pengadilan akan memutuskan—keputusan yang bisa membentuk precedent penting soal perlindungan rahasia dagang di era perpindahan talenta yang sangat mobile ini.

Sumber

Similar Posts