Analisis BMKG dan Pakar Terkait Ribuan Gempa Susulan di Flores NTT

Analisis BMKG dan Pakar Terkait Ribuan Gempa Susulan di Flores NTT

Flores, Nusa Tenggara Timur, masih berguncang tanpa henti. Hingga Sabtu (22/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 5.012 gempa susulan pasca gempa utama berkekuatan M7,7 yang menghantam wilayah tersebut beberapa hari lalu. Dari ribuan kejadian itu, 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5,0 dengan yang terbesar mencapai M6,2, sementara lebih dari 120 guncangan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

Gempa Susulan Diprediksi Berlanjut Hingga Sebulan

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memprediksi bahwa rangkaian gempa susulan ini masih akan terus berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan. Menurutnya, fase awal aktivitas gempa susulan memperlihatkan pola temporal yang kompleks tanpa peluruhan signifikan—jumlah gempa harian yang tercatat bahkan berfluktuasi dari 704 kejadian pada hari pertama, naik menjadi 746 pada hari kedua, sempat turun berkisar 668 hingga 627 kejadian pada hari ketiga sampai kelima, namun kembali melonjak menjadi 802 kejadian pada hari keenam.

Tak hanya jumlahnya yang masih tinggi, beberapa gempa susulan juga menghasilkan guncangan kuat berintensitas IV-VI MMI yang dirasakan warga. Guncangan signifikan terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB dengan kekuatan M5,6, dilanjutkan pada 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB dan 09.47 WIB masing-masing berkekuatan M5,8. Yang terakhir bahkan memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan dan jembatan yang sebelumnya telah terdampak, serta menimbulkan bencana tanah longsor di sejumlah titik.

Mekanisme Ilmiah di Balik Ribuan Gempa Susulan

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan bagian dari proses alamiah bumi untuk kembali mencapai keseimbangan. Secara teknis, gempa utama terjadi ketika energi yang terkumpul pada patahan melampaui batas elastisitas batuan, menyebabkan batuan patah dan bergeser secara tiba-tiba. Namun, bidang rekahan tersebut tidak langsung stabil—ia masih menyisakan titik-titik tegangan yang kemudian memicu pergeseran pada batuan di sekitarnya.

“Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru,” kata Daryono. Fenomena ini sejalan dengan Hukum Omori-Utsu, yang menjelaskan bahwa frekuensi gempa susulan akan menurun seiring berjalannya waktu, meski magnitudo beberapa di antaranya masih cukup besar untuk merusak bangunan yang struktur dasarnya telah melemah.

Dari sisi redistribusi tegangan atau Coulomb stress change, gempa utama menyebabkan pelepasan tekanan masif yang justru memindahkan sebagian tegangan sisa ke area batuan di sekitarnya. Karena itu, rangkaian gempa susulan bukan berarti tekanan di wilayah tersebut terus membesar—sebaliknya, ia menjadi bagian dari mekanisme kerak bumi dalam mengurai sisa tegangan dan menyesuaikan diri menuju kondisi yang lebih stabil.

Sebaran Gempa Membentuk Klaster Spesifik

Hasil relokasi pemantauan BMKG menunjukkan bahwa gempa susulan tidak menyebar secara homogen, melainkan membentuk beberapa klaster tersendiri. Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa M7,7 di utara Nagekeo, membentang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust. Sementara itu, klaster susulan lainnya muncul di bagian barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai.

Menariknya, data seismisitas harian memperlihatkan pergerakan fokus aktivitas yang terus dinamis. Pada hari pertama hingga keempat pasca-gempa utama, gempa bumi menyebar merata di seluruh klaster dari timur ke barat. Namun, pada hari kelima dan keenam, aktivitas seismik bergeser dan memusatkan kekuatannya di klaster bagian barat, sementara klaster bagian timur mulai menurunkan intensitas aktivitasnya secara bertahap.

Untuk memantau perkembangan situasi, BMKG terus mengoperasikan sistem pemantauan real-time selama 24 jam penuh, tujuh hari seminggu. Petugas BMKG secara berkelanjutan menganalisis kuantitas kejadian, magnitudo, distribusi, dan karakteristik sumber gempa. Pembaruan data aktivitas gempa dipublikasikan secara rutin dua kali sehari pada pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB melalui kanal media sosial resmi seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp Channel, memberikan informasi terkini bagi masyarakat dan pihak terkait dalam upaya mitigasi bencana.

Sumber

Similar Posts