Laporan GSMA: Adopsi 5G Indonesia Lambat, Fokus Monetisasi Sebelum 6G

Laporan GSMA: Adopsi 5G Indonesia Lambat, Fokus Monetisasi Sebelum 6G

Laporan GSMA: Adopsi 5G Indonesia Masih 4 Persen, GSMA Minta Fokus Monetisasi Sebelum Kejar 6G

Meski teknologi 5G telah hadir di Indonesia sejak lima tahun lalu, tingkat adopsinya masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang dirilis GSMA pada awal Agustus ini mencatat bahwa koneksi 5G di Indonesia baru mencakup sekitar 4 persen dari total koneksi seluler pada 2025, dengan jangkauan jaringan yang menyentuh hanya 10 persen populasi—angka yang kontras dengan Filipina yang sudah mencapai 25 persen adopsi dan Singapura yang menembus 34 persen.

Proyeksi Pertumbuhan 5G Masih Bergantung pada Infrastruktur dan Spektrum

GSMA memproyeksikan adopsi 5G Indonesia akan meningkat menjadi 28 persen pada 2030, dengan cakupan jaringan yang diharapkan menjangkau sekitar 32 persen populasi. Sementara itu, jaringan 4G masih akan mendominasi sebagai tulang punggung konektivitas seluler di Tanah Air, meski porsinya diprediksi turun dari 92 persen pada 2025 menjadi sekitar 70 persen pada akhir dekade ini. Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, menjelaskan dalam sesi pemaparan virtual pada Kamis (20/8/2026) bahwa Indonesia saat ini berada dalam fase foundational build-out infrastruktur 5G, di mana pertumbuhannya sangat bergantung pada investasi berkelanjutan dan ketersediaan spektrum.

Salah satu hambatan utama perkembangan 5G di Indonesia adalah ketersediaan spektrum frekuensi. Telkomsel, operator pelat merah yang pertama kali menggelar jaringan 5G pada 27 Mei 2021, memulai layanannya dengan memanfaatkan spektrum yang sudah ada—bukan pita frekuensi baru yang dilelang khusus untuk 5G. Gorman menegaskan bahwa pelepasan spektrum baru melalui lelang dapat menjadi titik awal penting untuk mempercepat pengembangan jaringan, sekaligus membuka ruang bagi operator untuk memperluas cakupan secara lebih masif.

GSMA: Jangan Terburu-buru Kejar 6G, Maksimalkan Nilai Ekonomi 5G Dulu

Menariknya, meski sejumlah negara maju mulai mempersiapkan teknologi 6G, GSMA justru mengingatkan Indonesia untuk tidak terburu-buru mengejar generasi berikutnya. Gorman menyebut standar 6G diperkirakan baru terbentuk sekitar 2028, sementara jaringan komersial pertama diprediksi hadir pada 2030—itu pun di pasar-pasar paling maju seperti Korea Selatan. “Fokus saat ini sebenarnya adalah memastikan kita melakukan monetisasi dan mengubah 5G menjadi transformasi ekonomi yang bermakna,” ujarnya, menekankan bahwa Indonesia perlu lebih dulu membangun ekosistem inovasi yang memanfaatkan kemampuan 5G, mulai dari latensi rendah, kapasitas besar, hingga konektivitas untuk sektor industri.

GSMA mencontohkan bagaimana era 4G melahirkan berbagai layanan digital seperti Gojek dan Tokopedia yang mengubah lanskap ekonomi Indonesia. Transformasi serupa diharapkan terjadi pada era 5G, termasuk penerapannya di pabrik, pelabuhan, bandara, dan sektor industri lainnya yang membutuhkan konektivitas andal dan latensi minimal. Di kawasan Asia Pasifik sendiri, koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada 2030, dengan operator seluler bersiap menggelontorkan belanja modal hingga 200 miliar dolar AS dalam periode 2025-2030 untuk evolusi jaringan—mulai dari 5G Standalone hingga 5G Advanced sebelum akhirnya menuju 6G.

Tantangan Harga Perangkat dan Kebutuhan Nyata Konsumen

Selain infrastruktur, harga perangkat 5G menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong adopsi massal. Gorman mencatat bahwa biaya perangkat kelas atas sedang meningkat akibat kenaikan biaya chip dan memori secara global, sementara perangkat 5G masih banyak berada di segmen harga yang lebih tinggi. Jeanette Whyte, Head of Public Affairs and External Affairs APAC GSMA, menambahkan bahwa tingkat adopsi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan 5G. “Tidak semua orang membutuhkan 5G,” katanya, seraya mengingatkan bahwa ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab: apakah konsumen mampu membeli perangkat 5G, apakah mereka benar-benar membutuhkannya, dan apakah teknologi tersebut memberikan layanan yang jauh lebih baik dibanding 4G yang sudah ada.

Meski angka adopsi Indonesia terlihat rendah, GSMA menilai Tanah Air tidak bisa begitu saja disebut lambat dalam pengembangan 5G. Pasalnya, Indonesia memulai 5G dengan strategi yang berbeda—memanfaatkan spektrum eksisting terlebih dahulu—dan kini berada dalam fase pembangunan fondasi yang memerlukan investasi jangka panjang. Dengan proyeksi sepertiga populasi akan menggunakan 5G pada akhir dekade ini, tantangan ke depan bukan hanya soal memperluas jaringan, tetapi juga memastikan teknologi ini memberikan dampak nyata bagi transformasi ekonomi digital Indonesia.

Sumber

Similar Posts