OnePlus Tutup Operasi AS dan Eropa

OnePlus Tutup Operasi AS dan Eropa

Setelah berbulan-bulan diselimuti rumor dan spekulasi, OnePlus akhirnya mengonfirmasi keputusan yang mengejutkan: merek smartphone yang pernah dijuluki “flagship killer” ini resmi menghentikan operasinya di Amerika Serikat dan Eropa. Langkah tersebut, yang diumumkan pertengahan Juli 2026, secara efektif mengakhiri perjalanan OnePlus sebagai merek global mandiri yang selama lebih dari satu dekade bersaing melawan raksasa seperti Samsung dan Apple dengan menawarkan spesifikasi premium di harga terjangkau.

Keputusan ini datang dari induk perusahaan OnePlus, Oppo—produsen smartphone terbesar keempat di dunia—yang tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap strategi pasar anak perusahaannya. Menariknya, penutupan operasi OnePlus di pasar Barat ini bukan berarti akhir total dari merek yang didirikan pada 2013 tersebut, melainkan sebuah transformasi mendasar dalam posisinya di ekosistem BBK Electronics.

Gelombang PHK dan Penutupan Kantor

Di balik pengumuman resmi tersebut, terdapat rangkaian pemutusan hubungan kerja yang berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026. Berdasarkan pelacakan terhadap puluhan profil LinkedIn mantan karyawan yang dilakukan media teknologi WIRED, banyak pekerja OnePlus di Eropa yang kemudian bertransisi ke divisi Oppo atau Realme—merek smartphone lain di bawah payung yang sama. Sementara itu, kantor OnePlus di New York City ditutup total pada April 2026, dengan seluruh karyawan di sana terkena dampak pemutusan hubungan kerja.

Seorang sumber anonim yang berbicara kepada WIRED mengungkapkan bahwa keputusan ini datang “dari atas” tanpa ada saluran komunikasi bagi tim lapangan. “Manajer kami di-PHK lebih awal, lalu seluruh kantor New York ditutup,” ungkap sumber tersebut, yang memilih tetap anonim demi menjaga peluang kerja di masa depan.

Perubahan Strategi Oppo di Pasar Global

Oppo memberikan pernyataan yang cukup ambigu ketika dimintai komentar, menyatakan bahwa perusahaan tengah “mengonsolidasikan sumber daya dan meningkatkan sinergi strategi produk global.” Dalam pernyataan tersebut, Oppo mengungkapkan bahwa Realme akan fokus pada pasar luar negeri dan tidak lagi meluncurkan produk baru di China, sementara peta jalan produk OnePlus di China tetap tidak berubah. Artinya, OnePlus akan terus beroperasi di China dan India, namun bukan lagi sebagai merek mandiri global—melainkan sebagai lini produk di bawah Oppo.

Perubahan strategi ini juga berdampak pada perangkat lunak. Beredar kabar bahwa OxygenOS, antarmuka khas OnePlus yang dibangun di atas Android, akan digantikan oleh ColorOS milik Oppo dalam beberapa bulan ke depan. Menurut laporan The Verge, pengguna OnePlus yang sudah memiliki perangkat dapat menolak pembaruan ini dan tetap menggunakan OxygenOS, namun konsekuensinya adalah kehilangan dukungan pembaruan di masa mendatang. Oppo sendiri berjanji akan terus mendukung perangkat OnePlus yang sudah beredar di pasar yang terdampak, meskipun detail teknis dukungan purna jual masih belum jelas.

Dari Rumor Hingga Konfirmasi

Spekulasi mengenai masa depan OnePlus sebenarnya sudah bergulir sejak Januari 2026, ketika Android Headlines melaporkan bahwa OnePlus tengah “dibongkar.” Saat itu, OnePlus membantah keras dengan menegaskan bahwa operasional di Amerika Utara, termasuk layanan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, tetap berjalan normal. Namun pada Maret, muncul lagi laporan dari 9to5Google yang menyebutkan kemungkinan OnePlus menghentikan operasi di pasar global.

Sinyal yang lebih kuat datang pada April 2026, ketika sejumlah petinggi OnePlus di wilayah Eropa dan Inggris dilaporkan meninggalkan perusahaan. Kala itu, juru bicara OnePlus hanya mengatakan bahwa mereka sedang “mengevaluasi peta jalan regional dan strategi produk” di kawasan tersebut. Akhirnya, pada pertengahan Juli 2026, media Jerman WinFuture memublikasikan laporan yang memicu konfirmasi resmi dari perusahaan, mengakhiri berbulan-bulan ketidakpastian.

Keputusan OnePlus untuk mundur dari pasar Barat terjadi di tengah kondisi industri smartphone global yang tengah menghadapi tekanan. Menurut firma riset Counterpoint, pengiriman smartphone global turun 11 persen pada kuartal kedua 2026, dipicu oleh krisis memori yang disebabkan ledakan permintaan dari pusat data AI yang membutuhkan RAM dalam jumlah besar. Kondisi ini memaksa banyak produsen untuk menyesuaikan strategi, dan bagi OnePlus—yang memulai perjalanannya dengan slogan “Never Settle” saat meluncurkan OnePlus One pada 2014—penyesuaian tersebut berarti mengakhiri era sebagai merek global independen dan kembali menjadi bagian dari strategi konsolidasi Oppo.

Sumber

Similar Posts