Negosiator Ransomware Angelo Martino Dihukum 70 Bulan Penjara Akibat Berkhianat dan Peras Klien
Kasus pengkhianatan dalam dunia keamanan siber mencatat babak baru yang mengejutkan. Angelo Martino, seorang negosiator ransomware berusia 41 tahun yang seharusnya membela kepentingan korban serangan siber, justru terbukti berkolusi dengan para peretas untuk menguras uang kliennya sendiri. Pengadilan federal Amerika Serikat pada 13 Juli 2026 menjatuhkan hukuman 70 bulan penjara kepada Martino setelah ia mengaku bersalah atas tuduhan konspirasi memeras korban melalui afiliasi grup ransomware BlackCat.
Martino sebelumnya bekerja untuk DigitalMint, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penanganan insiden ransomware dan negosiasi pembayaran tebusan. Dalam posisinya yang strategis itu, ia memiliki akses penuh terhadap informasi paling sensitif milik klien—mulai dari batas maksimal polis asuransi siber hingga strategi negosiasi internal perusahaan. Alih-alih menggunakan informasi tersebut untuk menekan harga tebusan, Martino justru membocorkannya kepada para peretas yang seharusnya ia lawan.
Skema Pengkhianatan dari Dalam Sistem
Dokumen pengadilan mengungkap bagaimana Martino menjalankan skema pengkhianatannya dengan sangat terencana. Ia berkomunikasi dengan operator BlackCat melalui jalur rahasia yang sama sekali tidak dipantau oleh DigitalMint maupun kliennya. Selain menggunakan obrolan negosiasi standar yang sah, Martino memanfaatkan fungsi perantara khusus di dalam panel administratif BlackCat serta aplikasi pesan terenkripsi Tox untuk menyembunyikan komunikasinya dengan para peretas.
“Tujuan dari komunikasi obrolan perantara ini adalah untuk memaksimalkan pembayaran tebusan yang dibayarkan oleh para korban kepada aktor BlackCat,” tulis pihak kejaksaan dalam dokumen resmi. Informasi rahasia seperti batas maksimal klaim asuransi yang bisa diakses korban dibocorkan secara sistematis oleh Martino. Berbekal data internal ini, para peretas tahu persis berapa jumlah maksimal yang dapat mereka peras tanpa membuat korban kehabisan opsi pembayaran.
Sebagai imbalannya, Martino menerima komisi dari setiap pembayaran tebusan dalam bentuk mata uang kripto. Antara April hingga September 2023, lima klien yang menjadi korban—berasal dari berbagai sektor termasuk layanan keuangan, perawatan kesehatan, ritel, hingga organisasi nirlaba—terpaksa membayar total lebih dari USD 75 juta kepada afiliator BlackCat. Para korban ini masing-masing membayar tebusan mulai dari USD 213.000 hingga USD 26,8 juta. Jaksa meyakini jumlah ini jauh melampaui apa yang seharusnya dibayarkan seandainya Martino tidak mengkhianati kepercayaan kliennya.
Naik Level Menjadi Pelaku Serangan Langsung
Tidak puas hanya menjadi informan bagi para peretas, pada Mei 2023, Martino berhasil mendapatkan akses afiliasi penuh ke platform ransomware BlackCat—sebuah kredensial yang biasanya hanya diberikan kepada mitra tepercaya untuk menyebarkan malware. Akses berharga ini kemudian ia bagikan kepada dua rekan konspiratornya: Kevin Martin dan Ryan Goldberg.
Menggunakan kredensial tersebut, trio ini meluncurkan serangan ransomware mereka sendiri terhadap lima korban di luar insiden yang melibatkan klien DigitalMint. Salah satu korban mereka adalah sebuah perusahaan perangkat medis yang akhirnya dipaksa membayar tebusan sebesar USD 1,2 juta. Pemerintah menuduh ketiga konspiraktor ini secara langsung menyebarkan ransomware kepada para korban tersebut, memanfaatkan infrastruktur BlackCat yang telah mereka akses.
Ganjaran Hukum dan Upaya Penegakan Global
Dari hasil kejahatannya, Martino meraup jutaan dolar dalam bentuk mata uang kripto yang sebagian telanjur diubah menjadi aset fisik—termasuk dua rumah, sebuah kapal, dan beberapa kendaran. FBI berhasil menyita aset senilai USD 10 juta milik Martino, meskipun sebagian lainnya sudah terlanjur dikonversi. Meski Martino menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara dan mengajukan permohonan hukuman 24 bulan sebagai bagian dari kesepakatan pengakuan bersalah, hakim justru menjatuhkan vonis 70 bulan—hampir tiga kali lipat dari yang dimintanya.
Selain hukuman penjara, pengadilan juga mewajibkan Martino untuk menyerahkan 10 persen dari gaji yang ia peroleh setelah bebas dari penjara sebagai kompensasi bagi para korban. Kedua rekan konspiratornya, Kevin Martin dan Ryan Goldberg, telah lebih dulu divonis masing-masing 48 bulan penjara. DigitalMint sendiri menegaskan bahwa perusahaan tidak mengetahui skema pengkhianatan ini dan telah memecat Martino serta memberikan kerja sama penuh kepada penyelidik FBI.
“Angelo Martino mengkhianati korban-korban yang seharusnya ia wakili, dengan menyerahkan posisi negosiasi rahasia mereka kepada aktor BlackCat untuk menaikkan tebusan dan memperkaya dirinya sendiri,” ujar Brett Leatherman, asisten direktur Divisi Siber FBI.
Grup ransomware BlackCat, yang juga dikenal dengan nama ALPHV, sempat menjadi salah satu ancaman siber paling aktif sepanjang 2023, termasuk serangan besar-besaran terhadap MGM Resorts. Pada Desember 2023, Departemen Kehakiman AS mengumumkan telah melumpuhkan operasi BlackCat. FBI bahkan mengembangkan alat dekripsi yang berhasil membantu lebih dari 500 korban menghindari pembayaran tebusan senilai USD 68 juta. Meski begitu, pemerintah AS masih terus memburu administrator dan afiliator BlackCat yang tersisa, dengan menawarkan hadiah hingga USD 10 juta bagi informasi yang mengarah pada penangkapan mereka.
Kasus Martino menjadi pengingat keras bahwa ancaman dalam ekosistem keamanan siber tidak selalu datang dari luar—terkadang, pengkhianatan terburuk justru berasal dari orang-orang yang dipercaya untuk melindungi. Hukuman yang dijatuhkan kepada Martino juga mengirim pesan tegas: kolusi dengan pelaku kejahatan siber akan dikenai sanksi maksimal, tanpa memandang posisi atau peran yang diemban.
