Origame Digital Kembangkan Game Indie Penguin Colony

Origame Digital Kembangkan Game Indie Penguin Colony

Studio indie Origame Digital tengah menggarap proyek game ambisius berjudul Penguin Colony, sebuah game horor Lovecraftian yang menempatkan pemain di dalam tubuh penguin Antartika untuk mengeksplorasi tema-tema kolonialisme dan ketidakpedulian kosmik. Proyek kedua studio asal sana ini hadir dengan pendekatan naratif yang tak biasa: alih-alih menghindari warisan problematik H.P. Lovecraft, game ini justru membedahnya secara kritis melalui perspektif ganda yang menggabungkan narasi manusia dengan sejarah lisan masyarakat adat.

Naphtali Faulkner, pendiri Origame Digital, mengungkapkan bahwa Penguin Colony adalah “upaya tulus untuk menghadirkan renaisans Lovecraft”. Berbeda dengan adaptasi Lovecraft kontemporer yang cenderung melakukan negasionisme sejarah demi membuatnya lebih mudah diterima, game ini justru kembali ke masa lalu yang menginspirasi karya-karya sang penulis. “Beberapa orang mungkin bilang kita bisa memisahkan seni dari seniman — tapi dengan Lovecraft, apakah benar-benar mengejutkan bahwa penulis yang mempopulerkan ‘ketakutan akan yang tidak diketahui’ ternyata seorang xenofobia?” ungkap Faulkner kepada Engadget.

Inspirasi dari Era Eksperimental PS2 dan Film Happy Feet

Faulkner mengerjakan proyek ini selama dua tahun penuh secara solo, dibantu oleh kontraktor eksternal dan seniman tamu dari masyarakat adat yang turut menciptakan aset visual game. Desain game mengambil inspirasi dari era eksperimental konsol PlayStation 2, di mana game-game berani mengambil risiko dengan konsep-konsep yang aneh dan tidak konvensional. Menariknya, konsep awal Penguin Colony justru lahir setelah Faulkner menonton film animasi Happy Feet — pengalaman yang kemudian membentuk mekanik inti permainan, yakni kemampuan penguin untuk meluncur di atas permukaan es.

Penguin Colony menjadi game kedua Origame Digital setelah kesuksesan Umurangi Generation, game simulator fotografi bertemakan distopia yang berhasil meraih penghargaan pada 2020. Jika game sebelumnya mengeksplorasi ketidakadilan sosial melalui lensa kamera, kali ini studio menyelami tema yang lebih gelap dan filosofis — dengan protagonis yang tak biasa.

Narasi Ganda: Penguin Sebagai Saksi Netral

Yang membuat Penguin Colony unik adalah pendekatan naratifnya. Dalam game ini, penguin berperan sebagai “wadah netral” untuk bercerita, sementara narator manusianya justru digambarkan sebagai pihak yang komplisit dan tidak sadar akan kekuasaan yang dimilikinya. Narasi game menggabungkan perspektif narator manusia yang pasif dengan sejarah lisan Kaitiaki, menciptakan sudut pandang ganda yang menyoroti tema invasi dan aneksasi dari berbagai sisi.

“Dalam adaptasi Lovecraft, ada kecenderungan untuk menganggap narator sebagai protagonis. Tapi dalam game kami, penguin adalah saksi netral — kita belajar tentang ekspedisi melalui perspektif seorang pria yang komplisit,” jelas Faulkner. Pendekatan ini memungkinkan game untuk mengangkat tema-tema kolonial yang melekat dalam karya Lovecraft — invasi, aneksasi, dan ketidakpedulian — tanpa menghilangkan konteks historis yang problematik.

Genre Bending dan Homage pada Horor Lovecraftian

Faulkner mengakui bahwa sulit menjelaskan apa sebenarnya Penguin Colony tanpa orang-orang langsung memainkannya. Game ini melakukan “genre bending” dan memberikan penghormatan langsung pada elemen-elemen yang menurutnya merangkum horor Lovecraftian, sekaligus memperkenalkan elemen-elemen baru yang orisinal. Ide sentralnya adalah mengevaluasi kembali tema-tema yang hadir di seluruh karya Lovecraft, tidak hanya dari fiksinya tetapi juga dari tulisan politiknya di The Conservative.

Dengan pendekatan yang berani dan naratif yang kritis, Penguin Colony menawarkan sesuatu yang segar dalam lanskap game indie: sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pemain merenungkan kembali bagaimana kita mengkonsumsi dan mengadaptasi karya-karya klasik yang bermasalah. Bagi Origame Digital, game ini adalah pernyataan bahwa medium game dapat — dan seharusnya — terlibat dalam diskusi kritis tentang sejarah dan warisan budaya, bahkan jika itu berarti menghadapi ketidaknyamanan secara langsung.

Sumber

Similar Posts