TikTok Salahkan Moderator Atas Keterlambatan Hapus Video Bahaya Diri Perez Hilton
Blogger gosip selebriti terkenal, Perez Hilton, dirawat di rumah sakit setelah melakukan siaran langsung di TikTok yang memperlihatkan dirinya dalam kondisi kritis dan melakukan tindakan membahayakan diri sendiri. Insiden yang terjadi pada Selasa malam waktu setempat ini langsung memicu kepanikan di kalangan penonton, yang kemudian segera menghubungi pihak berwenang untuk meminta bantuan.
Kantor Sheriff Miami-Dade menerima sejumlah laporan darurat terkait seseorang yang tengah melakukan siaran langsung dengan konten membahayakan diri di media sosial. Merespons laporan tersebut, petugas polisi bersama tim respons krisis dan tenaga kesehatan mental segera mendatangi kediaman Hilton — yang memiliki nama asli Mario Armando Lavandeira Jr. — di kawasan Miami, Florida. Setelah memastikan kondisi di lokasi, tim Miami-Dade Fire Rescue membawa Hilton ke rumah sakit untuk menjalani evaluasi kesehatan mental berdasarkan Baker Act, sebuah aturan di Florida yang memungkinkan seseorang menjalani pemeriksaan mental sementara jika dianggap berisiko terhadap keselamatannya sendiri.
Kesalahan Moderator Manusia di Balik Keterlambatan
Yang mengejutkan dari insiden ini adalah durasi siaran langsung tersebut tetap tayang di platform. Menurut juru bicara TikTok, Jamie Favazza, sistem otomatis perusahaan sebenarnya telah mendeteksi dan menandai video tersebut dalam hitungan menit setelah siaran dimulai. Namun, kesalahan dari moderator manusia menyebabkan penundaan dalam penghapusan konten, sehingga video sempat ditonton ribuan pengguna selama sekitar 15 menit sebelum akhirnya akun Hilton diblokir.
Favazza membantah klaim sebagian pengguna media sosial yang menyebutkan bahwa video tersebut tayang selama lebih dari 30 menit. Ia menegaskan bahwa durasi siaran hanya sekitar setengah dari angka yang beredar, dan upaya Hilton untuk melakukan siaran lanjutan berhasil diblokir oleh sistem dalam waktu 90 detik. TikTok juga mengklaim telah melaporkan insiden ini kepada pihak kepolisian segera setelah sistem mereka mendeteksi pelanggaran pedoman komunitas.
Keluarga Minta Privasi untuk Proses Pemulihan
Tak lama setelah kejadian, keluarga dan perwakilan Perez Hilton mengeluarkan pernyataan resmi melalui situs miliknya. Mereka mengonfirmasi bahwa Hilton sedang menjalani perawatan medis dan meminta publik untuk menghormati privasi keluarga selama proses pemulihan berlangsung. Dante Rusciolelli, manajer Hilton, menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai kebijakan moderasi TikTok dan menegaskan bahwa fokus saat ini adalah kesehatan dan kesejahteraan kliennya.
Perlu dicatat bahwa ini bukan kali pertama Hilton mengalami masalah kesehatan. Pada awal 2026, ia dilaporkan menjalani perawatan cukup lama akibat sepsis yang dipicu komplikasi ulkus sebelum akhirnya kembali beraktivitas di Miami. Hingga artikel ini ditulis, belum ada pembaruan resmi mengenai kondisi terkini Hilton selain pernyataan bahwa ia sedang menjalani perawatan medis.
Sorotan Terhadap Kelemahan Moderasi Konten TikTok
Kasus ini kembali menyoroti kelemahan sistem moderasi konten di TikTok, terutama dalam menangani konten sensitif yang melanggar pedoman komunitas platform. Menariknya, insiden ini terjadi tidak lama setelah The New York Times melaporkan bahwa TikTok baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 250 karyawan dan menutup kantor Nashville, di mana sebagian tim moderasi konten mereka berbasis. Keputusan perusahaan untuk mengurangi tenaga moderasi ini menambah kekhawatiran tentang kemampuan platform dalam merespons konten berbahaya secara cepat dan efektif.
Ini juga bukan pertama kalinya TikTok gagal memblokir konten bunuh diri atau tindakan membahayakan diri. Pada 2020, platform ini pernah kewalahan menghapus klip grafis dari Ronnie McNutt yang viral setelah mengakhiri hidupnya dalam siaran langsung di Facebook Live. Sebelumnya, TikTok juga dikritik karena lambat merespons kasus seorang pria Brasil yang melakukan bunuh diri dalam siaran langsung di platform tersebut.
Insiden Perez Hilton ini mempertanyakan kembali efektivitas kombinasi sistem otomatis dan moderasi manusia yang diklaim TikTok gunakan untuk menyaring konten berbahaya. Meskipun perusahaan telah memasuki struktur kepemilikan baru pada Januari lalu — dengan usaha patungan yang bertanggung jawab atas moderasi konten dan keamanan data di Amerika Serikat — kasus ini menunjukkan bahwa masih ada celah signifikan dalam sistem pengawasan konten mereka, terutama dalam situasi darurat yang memerlukan respons cepat untuk mencegah dampak yang lebih luas.
