Uni Eropa Ancam Denda Meta Terkait Desain Adiktif Facebook dan Instagram

Uni Eropa Ancam Denda Meta Terkait Desain Adiktif Facebook dan Instagram

Komisi Eropa mengancam akan menjatuhkan denda besar kepada Meta setelah menemukan bahwa desain Facebook dan Instagram sengaja dirancang untuk membuat penggunanya—termasuk anak-anak dan remaja—kecanduan media sosial. Dalam temuan awal yang dirilis pada Jumat (10/7/2026), badan eksekutif Uni Eropa menyatakan bahwa perusahaan teknologi raksasa tersebut telah melanggar Digital Services Act dengan menerapkan fitur-fitur yang memicu perilaku kompulsif dan kebiasaan tidak sehat dalam menggunakan platform.

Investigasi yang dimulai sejak Mei 2024 ini menemukan bahwa Meta gagal menilai secara memadai risiko yang ditimbulkan oleh desain adiktif platformnya terhadap kesejahatan fisik dan mental penggunanya. Fitur-fitur seperti infinite scroll (gulir tanpa batas), pemutaran video otomatis, notifikasi push yang terus-menerus, serta algoritma rekomendasi yang sangat personal dinilai mendorong pengguna untuk terus menggulir layar hingga otak mereka masuk ke “mode autopilot”. Komisi juga menemukan bahwa format konten seperti Stories dan Reels di Instagram berpotensi memicu penggunaan berlebihan, namun Meta mengabaikan bukti-bukti tentang berapa lama remaja menghabiskan waktu di kedua platform tersebut—terutama pada malam hari.

Tuntutan Perubahan Desain dan Ancaman Denda Masif

Sebagai solusi, Komisi Eropa menuntut Meta untuk melakukan perubahan mendasar pada desain kedua platformnya. Fitur pemutaran otomatis dan gulir tanpa batas harus dimatikan secara default, sementara Meta juga diminta menerapkan jeda waktu layar yang efektif dan memodifikasi algoritma rekomendasi agar tidak lagi terlalu fokus pada keterlibatan pengguna. Tuntutan ini bukan sekadar himbauan—jika temuan awal dikonfirmasi dan Meta gagal mematuhi aturan, perusahaan tersebut bisa menghadapi denda hingga 6 persen dari total pendapatan global tahunannya.

Besaran ancaman denda tersebut mencerminkan keseriusan Uni Eropa dalam menegakkan Digital Services Act, regulasi yang dirancang untuk membuat platform digital lebih bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan kepada penggunanya. Ini juga merupakan kali kedua tahun ini Komisi Eropa menemukan Meta melanggar aturan—pada April lalu, perusahaan ini terbukti gagal mencegah anak-anak di bawah 13 tahun menggunakan Facebook dan Instagram.

Meta Tolak Temuan dan Andalkan “Teen Accounts”

Meta, seperti dilaporkan CNBC, menolak temuan awal tersebut dan mengklaim telah mengambil “langkah-langkah signifikan” untuk melindungi remaja. Sebagai bukti, perusahaan menunjuk peluncuran fitur Teen Accounts yang memberikan kontrol kepada orang tua untuk memblokir akses anak-anak mereka pada malam hari dan membatasi waktu penggunaan harian hingga maksimal 15 menit. Menurut Meta, fitur ini memberikan kontrol penuh kepada orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak mereka.

Namun, Komisi Eropa justru menilai alat mitigasi yang ditawarkan Meta tidak efektif dalam mengatasi akar masalah. Bukti menunjukkan bahwa fitur manajemen waktu di Instagram dan Facebook—termasuk yang diaktifkan secara default untuk remaja—mudah diabaikan dan tidak menghasilkan pengurangan penggunaan aplikasi yang berarti. Lebih jauh lagi, kontrol orang tua yang ditawarkan Meta hanya efektif jika orang tua memiliki tingkat keahlian teknis tertentu atau memiliki waktu untuk mempelajari cara menggunakannya. “Ini melemahkan efisiensi langkah-langkah tersebut dalam mengatasi risiko inheren yang ditimbulkan oleh desain adiktif Instagram dan Facebook,” tulis Komisi dalam laporannya.

Tekanan Hukum dari Dua Benua

Tekanan terhadap Meta tidak hanya datang dari Eropa. Di Amerika Serikat, perusahaan tersebut juga menghadapi tuntutan hukum serupa dari empat negara bagian yang menuntut penalti fantastis hingga 1,4 triliun dolar AS. Dalam gugatan yang diajukan pada pengadilan, Meta dituduh sengaja mendesain Facebook dan Instagram untuk membuat pengguna muda kecanduan dan menyesatkan publik tentang keamanan platformnya.

Temuan Komisi Eropa belum bersifat final, dan Meta masih memiliki kesempatan untuk meninjau bukti-bukti yang digunakan dalam investigasi serta mengajukan tanggapan formal. Namun, kasus ini menandai momen penting dalam perdebatan global tentang tanggung jawab platform media sosial terhadap kesehatan mental penggunanya, khususnya generasi muda. Jika Uni Eropa berhasil memaksa Meta mengubah desain fundamentalnya, hal ini bisa menjadi preseden bagi regulasi serupa di yurisdiksi lain—dan mendorong transformasi industri media sosial secara lebih luas.

Sumber

Similar Posts