Laporan Keuangan Q2 2026 SpaceX
SpaceX baru saja merilis laporan keuangan kuartal kedua 2026, yang sekaligus menjadi laporan pertamanya sejak melantai di bursa saham pada Juni lalu. Hasilnya mengejutkan: perusahaan milik Elon Musk ini kini menghasilkan lebih banyak uang dari bisnis kecerdasan buatan (AI) ketimbang bisnis peluncuran roket yang selama ini menjadi identitasnya. Pendapatan total perusahaan melonjak 92 persen menjadi 7,8 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski kerugian bersih masih tercatat di angka 541 juta dollar AS — turun dari 1 miliar dollar AS pada kuartal kedua 2025.
Divisi AI Cetak Pendapatan Lebih Besar dari Roket
Transformasi paling mencolok terlihat dari kinerja divisi AI SpaceX. Sepanjang April hingga Juni 2026, unit yang dulunya dikenal sebagai xAI ini membukukan pendapatan 2,6 miliar dollar AS, melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bahkan melampaui pendapatan divisi luar angkasa yang hanya mencapai 962 juta dollar AS. Pertumbuhan dramatis ini didorong terutama oleh kesepakatan sewa kapasitas komputasi dengan raksasa teknologi seperti Anthropic dan Google, yang mengubah SpaceX menjadi pemain besar di industri komputasi awan.
Meski pendapatannya meroket, divisi AI tetap mencatat rugi operasional sekitar 1,3 miliar dollar AS pada kuartal ini. Namun, langkah strategis SpaceX untuk menyewakan pusat data Memphis kepada kompetitor justru membuktikan bahwa perusahaan ini lebih unggul dalam menyediakan infrastruktur AI ketimbang bersaing langsung mengembangkan model kecerdasan buatan. Anthropic sendiri telah berkomitmen membayar 1,25 miliar dollar AS per bulan hingga Mei 2029 untuk mengakses fasilitas Colossus 1 milik SpaceX.
Starlink Tetap Jadi Mesin Uang Terbesar
Sementara divisi AI dan roket masih merugi, layanan internet satelit Starlink tetap menjadi tulang punggung profitabilitas SpaceX. Unit ini menyumbang pendapatan terbesar sebesar 4,2 miliar dollar AS pada kuartal kedua, didukung oleh 12 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Starlink juga terus memperluas jejak bisnisnya melalui kemitraan dengan maskapai penerbangan ternama seperti United Airlines, American Airlines, Southwest Airlines, hingga Virgin Atlantic, Iberia Airlines, dan Aer Lingus.
Kesuksesan Starlink menjadikannya satu-satunya divisi SpaceX yang benar-benar menghasilkan keuntungan. Ekspansi layanan internet satelit ini tak hanya memperkuat posisi SpaceX di pasar konektivitas global, tetapi juga memberikan pondasi finansial yang stabil di tengah pengeluaran modal perusahaan yang terus membengkak.
Belanja Modal Meroket, Akuisisi Cursor di Depan Mata
SpaceX menunjukkan ambisinya yang besar dengan pengeluaran modal (capital expenditure) yang mencapai lebih dari 28 miliar dollar AS pada paruh pertama 2026 — melonjak drastis dari 7 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar dana ini digelontorkan untuk membangun kapasitas komputasi AI dalam skala besar, sebuah bidang yang menurut CEO Elon Musk sedang dikerjakan lebih cepat daripada siapa pun.
Perusahaan juga tengah menyelesaikan akuisisi startup AI Cursor, yang diharapkan dapat menghadirkan produk AI enterprise dan mendorong pendapatan tahunan mencapai 100 miliar dollar AS pada akhir tahun ini. Pada investor call, CFO Bret Johnsen menyebutkan bahwa SpaceX memiliki kontrak layanan komputasi awan senilai 6,7 miliar dollar AS yang akan mulai berjalan pada Oktober 2026. Musk bahkan lebih optimis, menyatakan bahwa target pendapatan tahunan 100 miliar dollar AS pada Desember “bukan sekadar tanda tanya, melainkan sesuatu yang akan kami capai bahkan jika kami tak melakukan apa-apa.”
Harga Saham Anjlok Pasca-Rilis Laporan
Terlepas dari pertumbuhan pendapatan yang mengesankan, pasar merespons laporan keuangan ini dengan skeptis. Harga saham SpaceX, yang melantai pada 12 Juni 2026 dengan harga 135 dollar AS per lembar, kini diperdagangkan di bawah harga IPO tersebut. Saham ditutup pada level 125 dollar AS pada hari Selasa, lalu anjlok hingga 8 persen dalam perdagangan pasca-pasar. Valuasi awal SpaceX yang mencapai 1,75 triliun dollar AS — menjadikannya IPO terbesar sepanjang sejarah — kini menghadapi tekanan dari kekhawatiran investor terkait profitabilitas jangka panjang.
Salah satu sumber kekhawatiran adalah kontroversi yang terus menghantui model AI Grok, chatbot milik SpaceX yang sempat viral karena menghasilkan konten ilegal, termasuk gambar eksplisit tanpa persetujuan. Masalah ini memaksa perusahaan untuk mengalihkan fokus dari pengembangan model AI mandiri dan lebih memilih strategi menyewakan kapasitas komputasi kepada pesaing seperti Anthropic dan Google.
Laporan keuangan perdana SpaceX ini memberikan gambaran yang jelas: perusahaan ini tak lagi sekadar perusahaan roket, melainkan telah bertransformasi menjadi pemain utama di industri AI dan komputasi awan. Dengan rencana akuisisi Cursor dan ekspansi Starlink yang terus berlanjut, SpaceX berupaya membuktikan bahwa valuasi triliunan dollar yang disandangnya bukan sekadar hype, melainkan refleksi dari visi jangka panjang yang ambisius — meski jalan menuju profitabilitas penuh masih panjang.
Sumber
- SpaceX made more revenue as an AI company than a space company – The Verge
- SpaceX doubles revenue on Anthropic and Google compute deals, Starlink growth – TechCrunch
- SpaceX’s first public earnings statement shows the financials of an AI company in 2026 – Engadget
- Pendapatan SpaceX Meroket 92 Persen, Pendorong Utamanya Bukan Bisnis Roket – Kompas Tekno
