NASA Hentikan Misi Penyelamatan Teleskop Swift
NASA resmi menghentikan misi penyelamatan Neil Gehrels Swift Observatory, teleskop luar angkasa yang telah beroperasi sejak 2004 untuk mendeteksi ledakan sinar gamma dan fenomena kosmik berenergi tinggi lainnya. Keputusan ini diambil setelah wahana antariksa LINK yang ditugaskan untuk mendorong Swift ke orbit lebih tinggi mengalami masalah teknis serius sejak akhir Juli 2026, sehingga tidak mampu menyelesaikan misinya. Tanpa upaya penyelamatan ini, teleskop Swift diperkirakan akan jatuh dan terbakar di atmosfer Bumi sebelum akhir tahun 2026, mengakhiri lebih dari dua dekade pengabdiannya dalam penelitian astrofisika.
Masalah Teknis yang Menggagalkan Misi Penyelamatan
Wahana LINK, yang dikembangkan oleh perusahaan swasta Katalyst Space, mengalami gangguan kontrol sikap (attitude control) yang menyebabkannya berputar tidak terkendali di orbit. Masalah orientasi ini dimulai sekitar tiga minggu setelah peluncuran misi pada 3 Juli 2026 menggunakan roket Northrop Grumman Pegasus XL. Akibat gangguan tersebut, komunikasi dengan wahana terputus secara sporadis, sementara sistem pendorong kehilangan sebagian fungsinya—kondisi yang membuat LINK tidak mampu melakukan manuver presisi yang diperlukan untuk mendekati dan mendorong Swift ke orbit yang lebih stabil.
Meski awalnya NASA dan Katalyst masih optimis pada Juli lalu bahwa misi bisa diselamatkan, kondisi wahana ternyata tidak membaik. Pada 20 Agustus 2026, NASA akhirnya mengumumkan pembatalan rencana pendorongan orbit. Meski demikian, wahana LINK tetap akan mencoba melakukan manuver pertemuan dengan Swift untuk mengumpulkan data operasi jarak dekat yang berguna bagi misi perawatan satelit di masa depan. NASA dan Katalyst berencana mengumpulkan sebanyak mungkin data dari operasi pertemuan ini untuk diterapkan pada misi-misi satelit servicing berikutnya.
Perlombaan dengan Waktu yang Tidak Berpihak
Misi penyelamatan Swift memang dirancang sebagai upaya berisiko tinggi dengan tenggat waktu yang sangat ketat. Peningkatan aktivitas Matahari dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan orbit Swift menurun lebih cepat dari perkiraan, memperpendek umur operasionalnya secara signifikan. Menyadari urgensi ini, NASA memberikan kontrak senilai USD 30 juta kepada Katalyst Space pada 2025 dengan target yang hampir mustahil: merancang, membangun, dan menguji wahana LINK dalam waktu kurang dari satu tahun.
Katalyst berhasit memenuhi tenggat waktu tersebut, namun kompleksitas teknis misi ini—yang merupakan upaya pertama dari jenisnya—terbukti terlalu besar untuk diatasi dalam waktu singkat. Shawn Domagal-Goldman, direktur Divisi Astrofisika di Kantor Pusat NASA, menyebut ini sebagai misi “berisiko tinggi dengan imbalan tinggi” sejak awal. Tim harus bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk mencoba memberikan Swift kesempatan memperpanjang masa operasionalnya sambil memajukan kemampuan Amerika dalam bidang perawatan satelit.
Administrator NASA Jared Isaacman mengakui bahwa hasil ini memang bukan yang diharapkan. “Ini bukan hasil yang kami harapkan, tapi ini tidak mengubah alasan mengapa misi ini layak dicoba,” ujarnya dalam pernyataan resmi. “Tim bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk memberi Swift kesempatan melakukan lebih banyak penelitian ilmiah sekaligus memajukan kemampuan yang dibutuhkan Amerika untuk perawatan satelit di masa depan. Kami akan mempelajari semua hal yang bisa dipelajari dari upaya pertemuan LINK dan menerapkan pelajaran tersebut pada misi-misi berikutnya.”
Warisan Swift dan Rencana NASA ke Depan
Neil Gehrels Swift Observatory diluncurkan pada 2004 dengan misi awal hanya dua tahun, namun telah melampaui ekspektasi dengan beroperasi lebih dari 22 tahun. Teleskop ini dirancang khusus untuk mendeteksi dan mempelajari ledakan sinar gamma—fenomena paling energetik di alam semesta—dengan kemampuan unik mengarahkan instrumennya secara cepat untuk mengamati dalam rentang sinar-X, ultraviolet, dan cahaya tampak. Seiring waktu, Swift menjadi aset krusial bagi NASA untuk memperoleh informasi cepat ketika terjadi kejadian kosmik mendadak. Para astronom kini menggunakannya untuk berbagai tujuan penelitian di luar misi awal deteksi ledakan sinar gamma.
Seandainya misi penyelamatan berhasil, NASA berharap Swift dapat terus beroperasi hingga setidaknya tahun 2030, menambahkan sekitar satu dekade lagi pada umur operasionalnya. Kehilangan Swift meninggalkan kekosongan dalam kemampuan observasi NASA, meski agensi antariksa ini menegaskan akan menggunakan misi-misi yang ada untuk mengisi celah tersebut sementara waktu. NASA menyatakan akan memprioritaskan pengembangan opsi baru yang memungkinkan reaksi cepat terhadap fenomena kosmik. Sementara itu, data yang dikumpulkan dari upaya pertemuan LINK dengan Swift akan menjadi pelajaran berharga untuk misi perawatan satelit masa depan—memastikan bahwa kegagalan kali ini tidak sia-sia dalam membangun kapabilitas teknologi antariksa Amerika.
