Sejarawan Jill Lepore Kritik Tokoh Lembah Silikon Salah Tafsir Fiksi Ilmiah

Sejarawan Jill Lepore Kritik Tokoh Lembah Silikon Salah Tafsir Fiksi Ilmiah

Sejarawan Harvard Jill Lepore meluncurkan kritik tajam terhadap elite Lembah Silikon dalam buku terbarunya, The Rise and Fall of the Artificial State. Menurutnya, tokoh-tokoh seperti Elon Musk dan Sam Altman sedang membangun masa depan berdasarkan kesalahpahaman mereka terhadap fiksi ilmiah — kisah-kisah peringatan yang justru mereka jadikan cetak biru untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai “negara buatan,” sebuah sistem yang mengancam fondasi demokrasi liberal.

Dari Fiksi Ilmiah ke Ambisi Tirani Algoritmik

Lepore, yang baru-baru ini meraih Pulitzer untuk karyanya tentang sejarah konstitusi Amerika Serikat, menelusuri bagaimana ide tentang “negara buatan” — pemerintahan oleh mesin dan algoritma — berkembang dari filosofi teknokratis berabad-abad lalu hingga menjadi obsesi miliarder teknologi kontemporer. “Saya tidak anti-teknologi,” tegasnya dalam wawancara dengan TechCrunch, “yang menjadi masalah adalah cara korporasi swasta semakin mengambil alih fungsi-fungsi negara tanpa persetujuan publik.”

Yang menarik, menurut Lepore, para pemimpin karismatik Lembah Silikon ini sebenarnya salah membaca literatur fiksi ilmiah favorit mereka sendiri. Musk, misalnya, menggemari karya-karya yang justru bertentangan dengan keyakinan politiknya. Baru-baru ini, ia bahkan berjanji akan menggunakan AI untuk menghasilkan versi The Odyssey karya Homer yang “akurat secara historis” — sebuah rencana yang, ironisnya, mereduksi puisi epik menjadi konten algoritmik tanpa jiwa, sementara perusahaan-perusahaan AI secara harfiah menghancurkan buku-buku fisik untuk menyerap data dengan lebih murah.

Menghindari Demokrasi Demi Akselerasi AI

Lepore mengidentifikasi pola berbahaya dalam narasi yang disebarkan oleh para petinggi perusahaan AI. Alih-alih membangun struktur tata kelola demokratis yang pernah mereka janjikan, korporasi-korporasi ini justru menyebarkan cerita tentang ancaman eksistensial dari kecerdasan buatan — taktik yang pada akhirnya mendorong investasi besar-besaran ke perusahaan mereka. “Tidak ada konvensi konstitusi AI yang pernah digelar, tidak ada dewan tata kelola global yang benar-benar dipertimbangkan,” tulisnya.

Sam Altman, CEO OpenAI, bahkan memprediksi bahwa sebagian besar permukaan bumi akan dipenuhi pusat data dalam waktu dekat, dan dengan enteng mengusulkan untuk memindahkan infrastruktur tersebut ke luar angkasa. Sementara itu, ia juga tercatat mendaftar dalam program pembekuan otak dengan harapan suatu hari bisa “bereinkarnasi” secara digital — mimpi yang berakar dari cerita fiksi ilmiah majalah anak laki-laki hampir seabad lalu.

Korporasi Menggantikan Negara, Tanpa Izin Rakyat

Transformasi ini, kata Lepore, berlangsung secara bertahap dan sebagian besar tanpa disengaja pada awalnya. Yang semula dimulai sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan menekan biaya kini berkembang menjadi agenda sadar dari para futuris libertarian untuk menghancurkan negara-bangsa melalui internet dan teknologi. “Ini adalah bentuk ekstrem dari mimpi memisahkan manusia bukan hanya dari alam, tetapi juga dari satu sama lain — memutus setiap tali pusar,” jelasnya.

Bagi Lepore, konsep negara buatan ini menandai akhir dari berabad-abad demokrasi dan hak-hak setara, menuju “kembalinya tirani dan mistifikasi dalam bentuk pemerintahan oleh algoritma, korporasi, dan mesin.” Yang paling mengkhawatirkan, menurutnya, adalah tidak ada seorang pun yang memberikan persetujuan untuk perubahan mendasar ini — transformasi yang kini mengancam struktur negara-negara demokratis di seluruh dunia.

Kritik Lepore mengingatkan kita bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tidak boleh berkembang dalam ruang hampa politik. Ketika korporasi swasta mengambil alih fungsi-fungsi negara tanpa akuntabilitas demokratis, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan teknologi, tetapi masa depan demokrasi itu sendiri. Pertanyaannya kini: apakah kita akan membiarkan mimpi keliru dari segelintir miliarder membentuk dunia yang kita tinggali?

Sumber

Similar Posts