Ancaman Super El Nino 2026: Lonjakan Suhu Ekstrem, Kekeringan Global, dan Dampak Ekonomi

Ancaman Super El Nino 2026: Lonjakan Suhu Ekstrem, Kekeringan Global, dan Dampak Ekonomi

Fenomena Super El Nino 2026 kini bergerak lebih cepat dan agresif dari perkiraan awal, dengan potensi mencapai kategori super pada Agustus mendatang. Data satelit terbaru per 19 Juli 2026 menunjukkan indeks El Nino telah menyentuh angka 1,74 derajat Celsius — melampaui puncak intensitas El Nino 2023 yang hanya mencapai 1,6 derajat Celsius. Menariknya, pemanasan ini terjadi dengan kenaikan konsisten 0,2 derajat Celsius setiap pekan sejak Februari 2026 tanpa mengalami fluktuasi, mengisyaratkan pola penguatan yang jauh lebih stabil dan berbahaya dibandingkan kejadian serupa di masa lalu.

Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa El Nino tahun ini diprediksi akan melampaui ambang batas 2 derajat Celsius pada Agustus 2026. Kategori super tersebut baru terjadi dua kali sepanjang sejarah pencatatan, yakni pada 1997 dan 2015, namun fenomena kali ini diperkirakan bakal lebih kuat dari keduanya. “Sudah dapat dipastikan El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023, begitu pula dampak yang ditimbulkannya,” ungkap Erma melalui akun media sosialnya pada 24 Juli 2026, setelah lembaga cuaca ekstrem Eropa turut menyoroti potensi Super El Nino beserta perubahan sirkulasi atmosfer yang dipicunya.

Panas Ekstrem di Bawah Permukaan Laut Siap Meledak ke Atmosfer

Yang lebih mengkhawatirkan, pemanasan yang terlihat di permukaan laut sebenarnya belum menggambarkan kondisi sesungguhnya. Menurut data dari Bureau of Meteorology (BOM) Australia dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), lapisan bawah permukaan Samudra Pasifik saat ini menyimpan panas dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan lapisan permukaan. Anomali suhu di kedalaman laut bahkan mencapai angka ekstrem hingga 9 derajat Celsius. Kelebihan panas yang terperangkap di bawah permukaan ini diproyeksikan akan segera naik dan dilepaskan ke atmosfer dalam beberapa bulan mendatang, sehingga terus memperkuat intensitas El Nino dan memperparah dampaknya di berbagai belahan dunia.

Badai Tropis Mengamuk di Pasifik, Indonesia Justru Kekeringan

Penguatan El Nino memicu pembentukan badai tropis yang lebih sering dan intens di kawasan Samudra Pasifik. Satelit Himawari telah mendeteksi lima sistem badai di kawasan tersebut, di mana dua di antaranya berkembang menjadi siklon tropis yang berpotensi memicu banjir di Amerika, Filipina, dan negara-negara lintang menengah belahan bumi utara. Namun, kondisi berlawanan justru menimpa Indonesia — negara kepulauan ini akan menjadi wilayah bayangan hujan (rain shadow) dari Samudra Pasifik, sehingga dilanda kekeringan yang semakin meluas dari hari ke hari.

Erma menjelaskan bahwa sekitar 70 persen wilayah Indonesia, terutama yang berada di selatan ekuator, diprediksi akan mengalami cuaca yang lebih panas dan udara yang lebih kering. Wilayah yang paling rentan terdampak meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera bagian selatan, serta Kalimantan yang menghadapi ancaman serius kebakaran hutan. Sementara itu, wilayah di utara ekuator seperti Aceh, Sumatera bagian barat, dan Kalimantan bagian utara diperkirakan masih akan menerima curah hujan selama periode El Nino berlangsung.

Afrika Terancam Kerugian Ratusan Triliun Rupiah

Dampak ekonomi dari Super El Nino 2026 diprediksi akan menghantam benua Afrika dengan sangat keras. Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau Bank Pembangunan Afrika (AfDB), Anthony Nyong, memperkirakan fenomena ini akan memicu kerugian ekonomi sebesar 10 miliar hingga 20 miliar dolar AS — setara dengan Rp179 triliun hingga Rp358 triliun. Angka tersebut mencerminkan penurunan produk domestik bruto (PDB) rata-rata sebesar 1 hingga 2 persen bagi negara-negara yang terdampak paling berat, akibat kerusakan infrastruktur dan kegagalan panen yang meluas.

Lebih dari sekadar angka ekonomi, kondisi ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan berupa ancaman ketahanan pangan dan gelombang migrasi massal dari daerah yang terdampak paling parah. AfDB mengidentifikasi sejumlah negara dengan risiko tertinggi, termasuk Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, dan Nigeria. Nyong memperingatkan bahwa dampak El Nino tidak akan berhenti dalam satu tahun — kondisi kekeringan yang melanda kawasan Sahel dalam beberapa tahun terakhir dapat berlanjut, sementara pemulihan dari badai besar bisa berlangsung selama bertahun-tahun sebagaimana dialami Mozambik setelah Topan Idai pada 2019.

Situasi ini juga memaksa sejumlah pemerintah Afrika untuk memangkas anggaran kesehatan dan pendidikan demi merespons bencana iklim. Sebelumnya, El Nino 2023-2024 telah menyebabkan petani Afrika kehilangan pendapatan hingga 330 juta dolar AS akibat gagal panen yang meluas. Nyong menyebutkan bahwa negara-negara tersebut terjebak dalam kondisi yang ia sebut sebagai perangkap pembiayaan iklim — tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk merespons bencana, sehingga terpaksa mengorbankan program-program pembangunan jangka panjang demi bertahan menghadapi krisis iklim yang kian sering terjadi.

Sumber

Similar Posts